Surabaya (beritajatim.com) – Dinas Pendidikan Jawa Timur (Dindik Jatim) mencatat sejumlah sekolah masih kekurangan murid jelang Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027.
Kondisi ini diketahui usai pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) berakhir. Wilayah yang sepi peminat tersebar di beberapa kabupaten, seperti Madura, Ponorogo, hingga Situbondo.
Daerah lain yang senasib adalah Bondowoso, Lamongan, Madiun, Magetan, serta Lumajang. Dindik Jatim pun langsung menyiapkan langkah cepat untuk menyiasati bangku kosong tersebut.
“Kami menyalurkan calon peserta didik yang belum tertampung ke sekolah negeri dengan sisa kuota di wilayah rayon, lembaga swasta, atau sekolah di bawah kementerian lain,” ujar Kepala Dindik Jatim Aries Agung Paewai, Kamis (9/7/2026).
Selain pemerataan murid, Dindik Jatim juga menjalin kesepakatan dengan institusi pendidikan swasta. Kerja sama ini berwujud pembebasan dan keringanan biaya pendidikan bagi siswa baru.
Di tengah penataan kuota tersebut, Dindik Jatim tetap mematangkan persiapan MPLS. Agenda tahunan ini akan bergulir serentak pada Senin (13/7) mendatang.
Sebanyak 618.479 siswa baru tingkat SMA, SMK, dan SLB negeri maupun swasta siap mengikuti masa orientasi. Pembukaan tingkat provinsi berpusat di SMKN 2 Singosari, Malang.
Sekolah lain di Jatim akan memantau pembukaan secara daring. Aries menjamin seluruh rangkaian acara terbebas dari praktik perpeloncoan dan kekerasan fisik.
“Perencanaan dan penyelenggaraan kegiatan sepenuhnya menjadi tanggung jawab guru. Kakak kelas atau pengurus OSIS hanya berperan sebagai pendamping,” tegas Aries.
Pelaksanaan orientasi ini merujuk pada regulasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Aturan itu melarang pungutan biaya dan penggunaan atribut tanpa nilai edukasi.
Masa pengenalan berlangsung maksimal lima hari. Materi wajib berisi tujuh kebiasaan anak hebat, etika bermedia sosial, serta penerapan budaya senyum, salam, sapa, sopan, dan santun.
Dindik Jatim juga mewajibkan sekolah menyediakan kanal pengaduan perundungan. Pengawasan guru diperketat agar kegiatan berjalan ramah, inklusif, dan berwawasan lingkungan.
“Kebijakan kami berpedoman pada aturan pemerintah pusat untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan bebas kekerasan,” kata pria kelahiran Makassar tersebut.
Acara pembukaan nanti juga akan diisi dengan deklarasi anti rokok dan rokok elektrik. Langkah ini sejalan dengan program Gema Integritas Sekolah di Jatim. [ipl/kun]






