Lumajang (beritajatim.com) – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, cukup dikagetkan dengan kasus bullying yang sampai sebabkan siswa sekolah menengah pertama (SMP) meninggal dunia.
Sebab, peristiwa perundungan yang terjadi pada 18 Mei 2026 tersebut baru diketahui oleh Dindikbud Lumajang, belakangan ini.
Korban bernama Muhammad Ilham (16), warga Desa Jatisari, Kecamatan Kedungjajang, merupakan siswa di SMP PGRI Kecamatan Sukodono.
Sekertaris Dindikbud Lumajang Bekti Sawiji mengatakan, pihaknya baru mengetahui peristiwa bullying tersebut setelah kasusnya viral di media sosial.
“Kita juga baru tahu kejadian bullying ini kemarin (rabu) dari media,” ucap Bekti, Kamis (2/7/2026).
Menurutnya, pihak SMP PGRI Sukodono tidak pernah memberikan laporan apa pun sejak peristiwa perundungan terjadi pada 18 Mei 2026 lalu.
Bahkan, hingga korban meninggal dunia pada 24 Juni 2026, laporan terkait kasus perundungan tersebut juga belum disampaikan oleh pihak sekolah.
“Itu yang sangat kami sesalkan, kami juga baru tahu dari media, dari korwil atau sekolah tidak ada penyampaian ke kami,” tambahnya.
Bekti memastikan, pihaknya sudah melakukan pemanggilan terhadap sekolah terkait kasus tersebut.
“Kemarin sekolah sudah kita panggil dan sudah kita berikan teguran keras terkait masalah ini. Karena memang masalah seperti ini seharusnya dilaporkan,” katanya.
Sementara, Kepala SMP PGRI Sukodono Yunita Wahyuningsih menjelaskan, kejadian bullying itu tidak dilaporkan disebabkan karena sudah ada mediasi dari keluarga korban maupun terduga pelaku.
Yunita mengaku, pihaknya tidak menyangka aksi bullying yang terjadi satu bulan lalu bisa menimbulkan dampak panjang berujung meninggalnya korban.
“Jadi, waktu mediasi itu kami menganggap sudah selesai dan sudah ada kesepakatan damai, makanya tidak laporan. Tidak menyangka juga bisa seperti ini,” ungkapnya. (has/ian)






