Surabaya (beritajatim.com) — Lagu berbahasa Sunda berjudul “Lalaki Langit, Lalanang Bejad” karya Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein, sedang menjadi sorotan publik. Setelah viral di berbagai platform media sosial, lagu tersebut menuai kritik lantaran liriknya dianggap mengandung stereotip negatif terhadap perempuan dan dinilai bertentangan dengan semangat kesetaraan gender.
Perdebatan semakin meluas setelah sejumlah tokoh ikut menyampaikan tanggapan, termasuk Anggota DPR RI Komisi VIII, Atalia Praratya. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Atalia mengaku kesulitan menemukan makna yang dapat dimaknai sebagai bentuk penghargaan terhadap perempuan dalam lagu tersebut.
“Jujur, saya tidak habis pikir. Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini, saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan,” tulis Atalia dalam unggahannya.
Menurutnya, isi lagu justru menghadirkan narasi yang bertolak belakang dengan berbagai upaya yang selama ini dilakukan untuk menghapus diskriminasi berbasis gender dan budaya patriarki.
“Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan. Namun mengapa justru narasi yang sangat patriarki lahir dari karya seorang kepala daerah?” lanjutnya.
Pernyataan tersebut kemudian mendapat perhatian luas dari warganet. Banyak pengguna media sosial menyampaikan pendapat serupa bahwa figur publik, terlebih seorang kepala daerah, seharusnya lebih berhati-hati dalam menyampaikan pesan kepada masyarakat melalui karya seni.
Meski baru ramai menjadi bahan perbincangan, lagu “Lalaki Langit, Lalanang Bejad” sebenarnya telah diunggah melalui kanal YouTube OMZEIN72 sejak Januari 2026. Popularitasnya melonjak setelah potongan video ia unggah di akun TikToknya, (et) omzein_bupatiaing. Sejak saat itu, banyak warganet yang menilai bahwa liriknya telah merendahkan kaum perempuan.
Adapun dalam lagu tersebut, Om Zein mengungkapkan rasa syukur karena terlahir sebagai laki-laki. Namun, penyampaian rasa syukur tersebut dilakukan dengan membandingkan berbagai pengalaman yang diasosiasikan dengan perempuan.
Beberapa bagian lirik menyebutkan bahwa apabila dirinya lahir sebagai perempuan, ia membayangkan mungkin dirinya telah mengalami keguguran hingga tujuh kali ketika masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Lirik lainnya juga menyinggung persoalan membeli bra berukuran besar, kesulitan mencari apotek karena terlambat datang bulan, hingga harus menggunakan pensil alis dan bulu mata palsu. (fyi/ian)






