Surabaya (beritajatim.com) – Program Mobilitas Akademik Berdampak dalam payung Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang dijalankan Universitas Negeri Surabaya (Unesa), menjadi langkah awal bagi mahasiswa Prodi Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, untuk melangkah lebih dekat dalam melihat dan merasakan langsung detak permasalahan di tengah masyarakat.
Di antara deretan mahasiswa yang menjemput kesempatan itu, adalah Saila Abidah, mahasiswi Prodi Matematika semester enam yang berkesempatan meniti pengabdian lewat program magang di Stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Maritim Kelas II Tanjung Perak Surabaya, terhitung sejak Februari hingga Mei 2026.
Selama empat bulan melangkah di sana, Saila menempa diri dalam pelukan waktu dan hamparan pengalaman berharga sebagai seorang peserta magang.
Di tengah ritme ruang kerja kantor BMKG yang berdenyut sibuk, ia menyerap rupa-rupa pengetahuan baru yang tidak ia dapatkan di bangku kuliah; mulai dari mengamati fenomena alam, membaca ketinggian gelombang dan kecepatan angin, menelisik pergerakan bulan, hingga menyaksikan citra kesibukan alam semesta yang menaungi bumi.
Namun, di balik rentetan pengalaman indah yang ia reguk di BMKG Maritim Kelas II Tanjung Perak Surabaya tersebut, terselip sekeping kegelisahan yang mengusik benaknya. Saila menemukan tantangan birokrasi terkait proses pendaftaran magang yang dinilai cukup rumit. Sebuah proses yang menurutnya bisa menjadi batu sandungan bagi calon peserta lain yang ingin menjemput pengalaman berharga serupa.
Berangkat dari riak gelisah di dalam dada itulah, Saila kemudian tergerak merajut sebuah mahakarya berbasis laman digital web. Platform ini dirancang agar mampu mengakomodasi seluruh informasi magang di BMKG Kelas II Tanjung Perak Surabaya secara lengkap dan real-time, berhiaskan panduan jalur masuk hingga rincian syarat bagi para calon pendaftar.
”Waktu dulu awal daftar agak ribet harus mengunjungi offline sana-sini buat mengurus berkas dan mengirimnya kembali, yang padahal itu bisa banget dibuat lebih simpel lewat formulir online yang bisa diisi dan dikirim sendiri kapan saja,” tutur Saila mengenang masa-masa awal pendaftarannya, Minggu (28/6/2026).
Didorong hasrat kuat untuk memangkas birokrasi panjang yang kerap menyita waktu mahasiswa, ia pun mulai merancang sebuah sistem. Berbekal ilmu pemrograman web yang dipelajari dari bangku kuliah, Saila memadukan sistem HTML dan JavaScript pada tampilan depan, serta Google Apps Script sebagai mesin pengolah data di balik layar.
“Sistem ini kian kokoh berkat dukungan Google Sheets sebagai basis data utama, serta Google Drive yang difungsikan layaknya gudang penyimpanan berkas digital para pendaftar,” paparnya.
Kombinasi perkakas digital ini dipilih Saila bukan tanpa alasan; ia menimbang aspek efisiensi yang tinggi karena sifatnya yang gratis, ringan, tidak memerlukan peladen tambahan, sekaligus mampu membebaskan lembaga dari beban biaya infrastruktur.
“Kini, buah kerja keras tersebut mewujud nyata dan dapat diakses dengan mudah melalui tautan resmi: (https://magangbmkgmaritimsurabaya-spec.github.io/magangbmkgmaritimsurabaya-spec/#batch),” katanya.
Saila memaparkan bahwa ada beragam keunggulan fitur yang disematkan dalam laman magang BMKG Maritim Surabaya yang ia bidani selama kurun waktu dua bulan tersebut.
Keunggulan pertamanya terletak pada keharmonisan skema penjadwalan yang terbagi dalam tujuh batch magang, di mana seluruhnya telah diselaraskan dengan kalender akademik nasional.
Tak hanya itu, keunggulan kedua hadir lewat sajian statistik status kuota magang yang diperbarui secara real-time, lengkap dengan kartu informasi penunjuk sisa kuota yang masih tersedia.
”Begitu calon peserta mengirim formulir, sistem akan langsung mendeteksi batch yang sesuai berdasarkan tanggal pengajuan, lengkap dengan status kuota yang diperbarui secara real-time, sehingga siapa pun bisa tahu batch mana yang masih tersedia dan mana yang sudah penuh,” jelasnya optimis.
Lebih dari sekadar formulir digital yang kaku, sajian antarmuka laman ini juga dipercantik dengan fitur hero selection yang ramah menyapa setiap pasang mata pengunjung. Sentuhan kepraktisan lain pun turut hadir, di mana setiap berkas pendaftaran yang masuk akan langsung terarsipkan secara otomatis ke dalam subfolder Google Drive.
”Setiap berkas yang diunggah pendaftar juga otomatis tersimpan rapi dalam subfolder Google Drive sesuai batch dan nama pelamarnya masing-masing jadi tidak ada lagi cerita berkas nyasar atau tertumpuk di folder yang sama,” urainya mendalam.
Kendati demikian, perjalanan Saila dalam merajut sistem ini tidak selalu berselimut kemudahan.
Ia menceritakan, salah satu batu ujian yang cukup menguji keteguhan dan kesabarannya adalah kendala teknis terkait kebijakan CORS (Cross-Origin Resource Sharing) yang sempat memicu ketidakselarasan antara domain GitHub Pages dan endpoint Google Apps Script.
Menurut penuturannya, jembatan komunikasi data antara dua “rumah” digital yang berbeda ini awalnya sempat terblokir saat proses uji coba berlangsung, sehingga data pelamar yang dikirim melalui formulir enggan singgah ke dalam sistem penyimpanan.
”Itu yang paling bikin frustrasi, sih. Datanya kelihatan terkirim dari sisi formulir, tapi pas dicek di Google Sheets nggak masuk-masuk. Butuh beberapa kali debugging sampai akhirnya ketemu konfigurasi yang pas,” kenang Saila.
Namun, selepas melewati serangkaian pengujian alur data yang ketat dari sudut pandang pengguna hingga ke sistem backend, platform digital ini akhirnya dapat berjalan tanpa cela. Setiap untaian data yang diisi oleh calon peserta kini langsung tersimpan secara otomatis dan terstruktur di Google Sheets, siap untuk diakses maupun direkap oleh admin pendaftaran kapan saja dibutuhkan.
Meski saat ini situs tersebut telah berdiri megah dan siap untuk digunakan, kehadirannya masih harus menunggu momentum yang paling tepat untuk diluncurkan (launching) secara resmi.
Bagi Saila, pengembangan sistem ini bukan sekadar proyek biasa, melainkan sebuah ruang pembuktian di mana ilmu matematika dan logika algoritmik tidak lagi berhenti sebagai catatan kusam di atas kertas perkuliahan.
Mahasiswi semester enam itu bilang, proses merancang aturan kuota, validasi data, hingga menyusun skema penjadwalan tujuh batch agar terbebas dari benturan jadwal adalah pengejawantahan langsung dari ketajaman berpikir logis-sistematis yang selama ini ia asah di ruang kelas.
”Awalnya saya kira ilmu yang saya pelajari kebanyakan teori doang. Tapi pas harus bikin sistem yang beneran dipakai orang, baru kerasa gimana logika matematika itu ternyata jadi pondasi di balik kode yang saya tulis,” pungkasnya menyudahi.
Pada akhirnya, sebuah langkah berani yang diayunkan oleh seorang mahasiswa magang ini telah menjadi lentera bagi perubahan yang dampaknya akan segera dirasakan oleh banyak orang.
Langkah manis ini sekaligus menjadi bukti nyata dari hidupnya semangat pengabdian mahasiswa sebagai agen perubahan (agent of change) di tengah masyarakat, yang dengan tulus mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian.
Sebagai informasi, Saila Abidah merupakan mahasiswa semester enam Prodi Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dari Universitas Surabaya (Unesa). Ia adalah salah satu peserta Program Mobilitas Akademik Berdampak dalam payung Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), yang baru saja menyelesaikan magang di Stasiun BMKG Maritim Kelas II Tanjung Perak Surabaya, periode Februari hingga Mei 2026. (rma/aje)






