Gresik (beritajatim.com) – Persaingan industri tak lagi hanya ditentukan oleh besarnya investasi atau kecanggihan mesin. Di balik transformasi menuju industri hijau dan digital, ada satu kompetensi yang kini menjadi rebutan, yakni Process System Engineering (PSE). Kemampuan ini dinilai akan menjadi penentu daya saing kawasan industri, termasuk Kabupaten Gresik yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat industri terbesar di Indonesia.
Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Cabang Gresik mulai mengakselerasi peningkatan kompetensi para insinyurnya agar mampu menjawab tantangan baru dunia industri, mulai dari efisiensi produksi, keselamatan proses, dekarbonisasi, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI).
“Kawasan industri seperti Gresik membutuhkan sumber daya insinyur yang tidak hanya menguasai aspek teknis, tetapi juga mampu merancang sistem proses yang efisien dan berkelanjutan,” ujar Ketua PII Cabang Gresik, Awang Djohan Bachtiar, Jumat (26/6/2026).
Ia menambahkan, sebagai kawasan industri yang menjadi rumah bagi sektor petrokimia, pupuk, semen, hingga pengolahan logam, Gresik membutuhkan insinyur dengan kompetensi Process System Engineering. Kemampuan ini menjadi fondasi penting untuk meningkatkan efisiensi operasi, keselamatan proses, keberlanjutan lingkungan, hingga pemanfaatan teknologi digital.
“Peningkatan kualitas SDM teknik akan menjadi investasi jangka panjang bagi industri. Ketika tantangan global semakin kompleks, perusahaan membutuhkan tenaga profesional yang mampu menghadirkan inovasi sekaligus menjaga daya saing,” imbuhnya.
Karena itu, PII Cabang Gresik terus mendorong anggotanya aktif mengikuti forum ilmiah dan profesional sebagai ruang untuk memperbarui wawasan sekaligus memperluas jejaring kolaborasi.
“Kami ingin semakin banyak insinyur di Gresik menguasai PSE sehingga mampu menjadi motor penggerak transformasi industri yang inovatif,” ungkapnya.
Komitmen tersebut menguat setelah PII Cabang Gresik mengikuti Konferensi PSE ID 2026 yang digelar Badan Kejuruan Kimia (BKK) PII bersama Departemen Teknik Kimia ITS di Surabaya.
Dalam forum tersebut, Wakil Ketua Umum BKK PII, Ganis Danandjati, menegaskan bahwa dunia industri tengah menghadapi perubahan besar. Transisi energi, digitalisasi proses, dekarbonisasi, kecerdasan buatan, hingga ketahanan rantai pasok membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
Menurutnya, Process System Engineering memiliki posisi strategis karena mampu menghasilkan sistem industri yang lebih efisien, aman, rendah emisi, sekaligus lebih kompetitif di pasar global.
“PSE menjadi fondasi penting untuk menjawab tantangan tersebut. Karena itu, konferensi ini menjadi wadah kolaborasi antara akademisi, peneliti, industri, dan regulator dalam menghasilkan solusi nyata bagi pembangunan industri nasional,” pungkasnya.
Konferensi PSE ID 2026 diikuti sekitar 150 presenter dari kalangan akademisi maupun praktisi industri. Selain menjadi ajang pertukaran inovasi, kegiatan ini juga merupakan bagian dari rangkaian Annual Meeting BKK PII 2026 sekaligus memperingati 85 tahun pendidikan teknik kimia di Indonesia.
Ketua Panitia PSE ID 2026, Rendra Panca Nugraha, menjelaskan bahwa Process System Engineering mencakup berbagai bidang strategis, mulai dari desain proses, pengendalian operasi industri, keselamatan proses, hingga optimasi sistem produksi.
“Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia usaha, ia berharap lahir berbagai inovasi yang mampu mempercepat terwujudnya industri kimia nasional yang lebih ramah lingkungan, efisien, dan berkelanjutan,” pungkasnya. (dny/kun)






