Surabaya (beritajatim.com) – Di era ketika hampir setiap keputusan didasarkan pada data, kemampuan mengolah angka saja tidak lagi cukup. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana data tersebut dikemas menjadi sebuah cerita yang mudah dipahami, relevan, dan mampu memengaruhi pengambilan keputusan.
Pesan itulah yang menjadi benang merah dalam webinar bertajuk “Storytelling with Data: Mengubah Angka Menjadi Narasi yang Meyakinkan” yang menghadirkan Moch Abdillah Nafis sebagai narasumber. Webinar diselenggarakan oleh Magnet Solusi Integra yakni sebuah perusahaan konsultan pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan bisnis yang berpusat di Surabaya. Perusahaan ini membantu organisasi dan korporasi dalam perancangan strategi organisasi, pelatihan berbasis kompetensi, serta penyelesaian masalah manajemen.
Dalam pemaparannya, Nafis menegaskan bahwa banyak presentasi berbasis data gagal mencapai tujuan bukan karena datanya salah, melainkan karena cara menyampaikannya kurang efektif. Tumpukan angka, grafik, dan tabel sering kali justru membuat audiens kehilangan fokus terhadap pesan utama yang ingin disampaikan.
Menurutnya, data seharusnya menjadi alat untuk membangun keyakinan, bukan sekadar memenuhi slide presentasi.
Belajar Membaca Makna di Balik Angka
Salah satu contoh yang disampaikan Nafis adalah mengenai turnover rate perusahaan, yakni tingkat keluarnya karyawan dari sebuah organisasi, baik karena mengundurkan diri, pensiun, meninggal dunia, maupun sebab lainnya.
Ia menjelaskan bahwa angka turnover tidak cukup hanya dibaca sebagai persentase.
“Misalnya turnover rate perusahaan naik hingga lebih dari 15 persen. Pertanyaan yang seharusnya muncul bukan hanya berapa persen kenaikannya, tetapi apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam perusahaan,” paparnya.
Menurutnya, tingginya voluntary turnover atau pengunduran diri secara sukarela dapat menjadi sinyal adanya persoalan yang lebih mendasar, seperti kepuasan kerja, budaya organisasi, kualitas kepemimpinan, hingga peluang pengembangan karier.
Dengan kata lain, angka hanyalah awal dari cerita. Tugas seorang analis adalah menemukan makna di balik data tersebut dan menyampaikannya kepada para pengambil keputusan.
Lima Kesalahan yang Membuat Presentasi Data Gagal
Dalam webinar tersebut, Nafis juga mengulas lima kesalahan yang paling sering ditemui dalam presentasi berbasis data.
Kesalahan pertama adalah rekomendasi yang belum jelas. Tidak sedikit penyaji data hanya menampilkan hasil analisis tanpa memberikan arah tindakan yang perlu dilakukan. Akibatnya, audiens memahami persoalan, tetapi tidak mengetahui solusi yang harus diambil.
Kesalahan kedua ialah terlalu banyak angka, tetapi minim insight. Menurut Nafis, presentasi tidak boleh berubah menjadi sekadar kumpulan statistik. Data harus diterjemahkan menjadi informasi yang mudah dipahami melalui tiga pertanyaan sederhana, yakni mengapa informasi tersebut penting, apa yang harus dilakukan setelah melihat data, dan apa konsekuensinya jika tidak ada tindakan.
“Jangan biarkan audiens sibuk membaca angka. Bantulah mereka memahami maknanya,” ujarnya.
Kesalahan berikutnya adalah cerita yang tidak disesuaikan dengan karakter audiens. Ia mengingatkan bahwa setiap kelompok pendengar memiliki kebutuhan informasi yang berbeda.
Presentasi di hadapan pimpinan perusahaan, misalnya, perlu lebih menekankan dampak bisnis dan rekomendasi strategis. Sementara bagi tim teknis, penjelasan mengenai metode analisis dan proses pengolahan data bisa menjadi bagian yang lebih penting.
Visual yang Sederhana Lebih Efektif
Kesalahan keempat berkaitan dengan tampilan visual.
Grafik yang terlalu rumit, warna yang berlebihan, hingga slide yang dipenuhi tabel angka justru membuat audiens kesulitan menangkap pesan utama.
Dalam konsep data storytelling, visualisasi berfungsi untuk mengarahkan perhatian pada informasi yang paling penting, bukan memamerkan seluruh data yang dimiliki.
Karena itu, penggunaan grafik yang sederhana, penekanan pada angka utama, serta pengurangan elemen yang tidak diperlukan menjadi bagian penting dalam membangun presentasi yang efektif.
Sentuhan Emosi Membuat Data Lebih Bermakna
Selain logika, Nafis menilai bahwa unsur emosi juga memiliki peran penting dalam menyampaikan data.
Ia menjelaskan bahwa keputusan manusia tidak sepenuhnya dibangun atas dasar fakta. Dalam praktiknya, setiap orang memiliki pertimbangan, kekhawatiran, dan persepsi yang memengaruhi cara mereka mengambil keputusan.
Oleh sebab itu, penyaji data perlu mampu menghubungkan angka dengan dampak nyata yang dirasakan organisasi maupun masyarakat.
Sebagai contoh, alih-alih hanya menyebut turnover meningkat menjadi 15 persen, penyaji dapat menjelaskan bagaimana kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya rekrutmen, menurunkan produktivitas, hingga mengganggu keberlangsungan proyek perusahaan.
Pendekatan semacam ini membuat data tidak hanya dipahami secara rasional, tetapi juga mampu membangun rasa urgensi bagi para pengambil keputusan.
Data Harus Menggerakkan Tindakan
Melalui webinar tersebut, Moch Abdillah Nafis menegaskan bahwa tujuan utama storytelling with data bukan sekadar menghasilkan presentasi yang menarik, melainkan membantu organisasi mengambil keputusan yang lebih tepat.
Data yang valid, visualisasi yang sederhana, narasi yang kuat, serta rekomendasi yang jelas menjadi kombinasi penting agar setiap informasi tidak berhenti sebagai angka, melainkan berubah menjadi dasar tindakan yang membawa perubahan.
Di tengah semakin derasnya arus informasi dan meningkatnya kebutuhan akan keputusan berbasis bukti, kemampuan mengubah data menjadi cerita yang meyakinkan kini menjadi salah satu kompetensi yang semakin dibutuhkan di berbagai bidang, mulai dari dunia bisnis, pemerintahan, hingga akademik. [aje]






