Surabaya (beritajatim.com)- Pernahkah anda ingin menanak nasi, lalu tiba-tiba melihat hewan hitam kecil bergerak di antara butiran beras? Momen seperti ini memang bisa membuat kaget dan merasa geli. Namun, anda tidak perlu langsung membuang seluruh beras di rumah, karena munculnya kutu beras adalah hal yang cukup umum terjadi.
Serangga kecil ini dikenal sebagai kutu beras (weevil). Meski mengganggu, keberadaan kutu tidak selalu berarti beras kotor atau disimpan dengan buruk. Telur kutu sering kali sudah ada sejak beras masih di sawah dan baru menetas saat berada di tempat yang hangat dan lembap, seperti dapur.
Lalu, apakah beras berkutu masih aman dimakan? Iya, beras berkutu umumnya masih aman untuk dikonsumsi selama kondisi beras masih baik dan tidak menunjukkan tanda-tanda rusak.
Kutu beras bukan serangga yang membawa penyakit berbahaya bagi manusia. Mereka tidak menggigit dan tidak menyebarkan infeksi. Karena itu, keberadaan kutu lebih dianggap mengganggu tampilan dan kebersihan beras daripada membahayakan kesehatan.
Membersihkan kutu beras juga cukup mudah. Cara yang paling sering dilakukan adalah mencuci beras beberapa kali sebelum memasaknya. Saat direndam air, kutu biasanya akan mengapung sehingga mudah dibuang bersama air cucian. Selain dicuci, anda juga bisa menjemur beras di bawah sinar matahari selama beberapa jam agar kutu keluar dengan sendirinya.
Namun, anda tetap perlu berhati-hati jika kondisi beras sudah berubah. Jika warnanya kusam, menggumpal, terasa lengket, atau mengeluarkan bau apek dan asam, kemungkinan beras tersebut sudah rusak atau terkontaminasi jamur maupun bakteri serta bisa menyebabkan gangguan kesehatan.
Agar kutu tidak muncul kembali, simpan beras anda dalam wadah yang kedap udara dan letakkan di tempat yang kering. Anda juga bisa menambahkan bahan alami seperti bawang putih, cabai kering, atau daun salam ke dalam wadah beras untuk membantu mengusir kutu. [Wakhdah Alisa Berliana]






