Malang (beritajatim.com) – Keputusan mengejutkan Bank Indonesia (BI) menaikkan BI Rate dua hari lalu langsung memicu respons positif di pasar keuangan. Kondisi ini tercermin dari penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam dua hari terakhir.
Berdasarkan data pasar, IHSG melonjak signifikan sebesar 7,57 persen pada perdagangan Selasa, disusul kenaikan 2,71 persen pada hari Rabu kemarin. Setali tiga uang, performa mata uang Garuda juga merangkak naik. Setelah sempat tertekan di level Rp18.171 per dolar AS pada Senin, rupiah menguat ke Rp18.141 pada Selasa, lalu melesat ke Rp17.971 pada Rabu, dan ditutup di posisi Rp17.957 pada perdagangan Kamis.
Dosen Magister Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB), Noval Adib, Ph.D., menilai langkah menaikkan suku bunga acuan ini sebenarnya merupakan jurus pamungkas yang diambil BI. Langkah ekstrem ini terpaksa ditempuh lantaran berbagai upaya intervensi pasar yang dilakukan sebelumnya dinilai belum bertenaga menahan kejatuhan rupiah.

”Keputusan tersebut sekaligus menjadi indikator bahwa tekanan eksternal terhadap rupiah saat ini masih sangat kuat, dan belum ada tanda-tanda akan mereda dalam waktu dekat,” ujar Noval Adib kepada beritajatim.com, Jumat (12/6/2026).
Noval membeberkan, strategi BI sebelumnya seperti melakukan intervensi langsung di pasar valuta asing (valas) maupun pasar obligasi, belum memberikan dampak positif yang signifikan karena rupiah tetap saja melemah. Sinyal hijau dari pasar saham dan pasar uang baru benar-benar muncul setelah otoritas moneter tersebut resmi mendongkrak BI Rate.
Kendati demikian, pakar ekonomi UB ini mengingatkan agar semua pihak tidak cepat puas. Menurutnya, lonjakan IHSG selama dua hari berturut-turut belum bisa menjadi jaminan bahwa tren penurunan (bearish) bursa saham domestik sudah selesai dan bersiap berbalik arah menuju tren pemulihan (rebound) yang berkelanjutan.
”Setidaknya kita butuh waktu minimal tujuh hari perdagangan untuk melihat apakah penguatan IHSG ini konsisten atau tidak. Kalau dalam sepekan ke depan trennya terus mendaki, baru kita bisa optimistis bahwa kondisi ekonomi mulai membaik,” jelasnya.
Jika yang terjadi justru sebaliknya, Noval menyebut penguatan bursa saham belakangan ini hanyalah technical rebound alias pemulihan semu yang bersifat sementara.
Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa kerja keras BI di sektor moneter tidak akan aman tanpa sokongan kebijakan substansial dari pemerintah di sektor riil. Pasar membutuhkan kepastian yang lebih konkret agar investor, terutama asing, yakin bahwa fundamental ekonomi Indonesia benar-benar pulih.
”Perbaikan iklim investasi harus digenjot, mulai dari peningkatan kepastian hukum, penyederhanaan birokrasi, hingga kebijakan ekonomi makro yang lebih berdampak. Jika penguatan IHSG dan rupiah saat ini murni hasil kerja keras BI sendirian lewat instrumen BI Rate, maka rebound yang kita lihat sekarang adalah rebound yang rapuh,” pungkasnya. (dan/but)






