Makkah (beritajatim.com) – Sinar matahari pagi belum sepenuhnya membakar Sektor 10 di Wilayah Aziziyah, Makkah, Senin (8/6/2026). Namun, di dalam lobi Hotel Al-Hidayah Tower, sebuah ruang emosi yang hangat mendadak tercipta.
Di sana duduk Sharfina Diah Nuratika (30), seorang perempuan yang dalam keheningan dunianya baru saja menuntaskan salah satu perjalanan spiritual paling bising dan padat di muka bumi: puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Sharfina adalah penyandang disabilitas autis. Bagi jemaah kebanyakan, memahami rentetan manasik atau mengelola emosi di tengah jutaan manusia adalah perkara melelahkan.
Bagi Sharfina, tantangan itu berlipat ganda karena keterbatasan komunikasi dan kerentanan terhadap sensorik lingkungan. Namun, takdir haji membuktikan bahwa di hadapan Sang Pencipta, lembar kehidupan Sharfina ditulis dengan derajat kesetaraan yang mutlak.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, keberhasilan Sharfina menepis stigma negatif yang selama ini kerap mengurung para penyandang disabilitas dalam kotak ketidakmampuan, khususnya dalam pemenuhan hak keagamaan.
Dua belas tahun lalu, tepatnya pada April 2013, setelah Sharfina resmi memiliki kartu tanda penduduk (KTP) pertama di Tangerang Selatan, kedua orang tuanya, Lilis Ardifiyanti dan Andradiet Ixvetrial Jacob Alis (Andre), langsung membulatkan tekad.
Mereka mendaftarkan porsi haji berempat, menyertakan putra sulung mereka, Aditya Kemal. Pada kolom pendaftaran, satu catatan penting ditulis dengan tinta kejujuran: Sharfina adalah seorang autistik.
Penantian 11 tahun yang membengkak menjadi 13 tahun akibat jeda kelam pandemi Covid-19 tidak dilewati keluarga ini dengan berdiam diri. Lilis dan Andre memperlakukan waktu tunggu sebagai madrasah persiapan.
Guna melatih ketahanan mental sang putri dari kepungan kerumunan, Sharfina diajak mengikuti berbagai perjalanan wisata grup selama belasan hari dan membiasakannya terbang berjam-jam di dalam pesawat.
“Kami sepakati, kami mau berangkat lagi (umrah) 2023. Untuk lebih memberi dia persiapan bahwa 2 tahun lagi kita akan berangkat haji,” ungkap Lilis mengenang memori dua tahun lalu. Langkah itu diambil karena memori umrah pertama Sharfina pada 2008 sudah terlalu usang untuk diingat oleh memori autistiknya.
Ketika waktu eksekusi umrah wajib tiba di Makkah, sebuah pemandangan mengharukan tercipta di pelataran mataf. Tubuh Sharfina dipasangi sebilah sabuk khusus yang ujungnya ditautkan langsung ke sabuk yang melingkar di pinggang ibundanya.
Di belakang mereka, Andre dan Aditya Kemal berdiri kokoh seperti benteng hidup, menghalau setiap desakan jemaah asing agar Sharfina bisa mengitari Ka’bah sebanyak tujuh putaran dan berlari kecil di jalur Shafa-Marwah dengan smooth, tanpa jeritan tantrum.
Fase paling krusial—puncak haji di Armuzna—berhasil dilalui Sharfina dengan catatan medis yang bersih. Ketakutan akan perubahan perilaku akibat sengatan cuaca ekstrem seketika runtuh oleh mukjizat ketenangan yang didekapnya.
Bahkan pada tanggal 10 Dzulhijjah, gadis Tangsel ini mampu melangkah tegap, mengayunkan kakinya sendiri dari tenda Mina menuju pilar Jamarat untuk melontarkan batu Aqabah. Baru pada hari tasyrik berikutnya, demi menjaga sisa kebugaran, tugas melempar batu didelegasikan melalui skema badal oleh sang kakak.
Keberhasilan Sharfina mencuri perhatian Wakil Ketua Komisi Nasional Disabilitas (KND), Deka Kurniawan, yang ikut memantau langsung di lapangan. Menurutnya, Sharfina dan jemaah disabilitas lain seperti Mbah Sarjo Utomo (71) yang seorang tunanetra, adalah bukti sahih bahwa regulasi Haji Ramah Disabilitas 2026 yang diusung pemerintah bukan sekadar dokumen di atas meja, melainkan sebuah kerja kemanusiaan yang nyata.
Kini, dengan sisa waktu mukim sebelum bertolak kembali ke tanah air, keluarga kecil ini bisa bernapas lega. Di sudut kamar Aziziyah, Lilis memandang putrinya dengan mata yang berkaca-kaca penuh kemenangan.
Perjalanan 40 hari ini mengonfirmasi sebuah pesan universal bagi seluruh orang tua anak berkebutuhan khusus di Indonesia: bahwa dengan persiapan yang matang, cinta yang tak berjarak, dan penyerahan total pada kuasa Allah, gerbang Baitullah akan selalu terbuka lebar bagi siapa saja yang jiwanya telah dipanggil. [ian/MCH]






