Gresik (Beritajatim.com) – Sebanyak 16 delegasi internasional dari Asian Organization of Supreme Audit Institutions Working Group on Environmental Auditing (ASOSAI WGEA) bersama Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI melakukan kunjungan strategis ke fasilitas smelter PT Freeport Indonesia (PTFI) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik.
Agenda ini bukan sekadar kunjungan teknis, melainkan sinyal kuat bahwa industri hilirisasi mineral Indonesia kini menjadi sorotan tata kelola global.
Sebelumnya, kick-off meeting ASOSAI WGEA dilakukan di Surabaya pada awal Juni 2026. Forum ini mempertemukan auditor negara dari Tiongkok, Papua Nugini, Oman, Myanmar, Pakistan, dan Indonesia untuk memperkuat peran audit sektor publik dalam memastikan pengelolaan sumber daya yang akuntabel dan berkelanjutan.
Fasilitas pemurnian PTFI dinilai merepresentasikan transformasi industri tambang dari sekadar eksportir bahan mentah menjadi produsen mineral bernilai tambah tinggi. Proses terintegrasi dari hulu hingga hilir, mulai dari penambangan, pengolahan konsentrat, hingga pemurnian, dipaparkan di hadapan delegasi.
Perwakilan Supreme Audit Institution (SAI) Pakistan, Moeed Ali, menuturkan dirinya menyoroti kemampuan perusahaan dalam menjaga keseimbangan antara kontribusi terhadap penerimaan negara dan komitmen keberlanjutan lingkungan. “PTFI merupakan perusahaan single line terbesar. Kami banyak belajar dari sini,” tuturnya, Senin (8/6/2026).
ASOSAI WGEA merupakan kelompok kerja yang beranggotakan sekitar 32 negara di Asia, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, India, Jepang, Korea Selatan, Rusia, hingga Indonesia. Fokus utamanya adalah meningkatkan kapasitas lembaga pemeriksa keuangan negara dalam melakukan audit lingkungan.
Sementara itu, Wakil Presiden Direktur PTFI, Jenpino Ngabdi, menegaskan kunjungan ini merupakan bentuk pengakuan terhadap implementasi good governance dan praktik pertambangan terintegrasi yang berkelanjutan.
“Kami memaparkan sistem operasional yang mencakup standar keselamatan kerja, teknologi pemurnian modern, serta pengelolaan lingkungan yang terintegrasi dalam rantai produksi,” ungkapnya.
Delegasi juga meninjau langsung fasilitas smelter untuk melihat implementasi standar tersebut di lapangan. Transparansi dan kepatuhan lingkungan menjadi faktor kunci dalam menarik investasi jangka panjang, terutama di sektor mineral kritis yang menjadi tulang punggung industri kendaraan listrik dan transisi energi. (dny/kun)






