Surabaya (beritajatim.com) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya meningkatkan intensitas penyiraman taman demi mempertahankan ruang terbuka hijau di tengah cuaca kemarau 2026 yang mulai menyengat.
Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda, musim kemarau tahun ini akan dibarengi dengan fenomena El Nino, yang membuat suhu udara terasa jauh lebih kering dan terik dari biasanya.
Menghadapi tantangan tersebut, DLH Surabaya telah menyiapkan sejumlah skema perawatan, termasuk menambah armada penyiraman dengan melibatkan mobil pemadam kebakaran serta memanfaatkan sumur cadangan PDAM.
Kepala Bidang Kebersihan dan Pemberdayaan DLH Kota Surabaya, Wasis Sutikno, menegaskan bahwa pemerintah kota (pemkot) berkomitmen untuk terus menjaga fungsi taman sebagai paru-paru kota, dan penentu kualitas udara di tengah padatnya mobilitas kendaraan.
”Penyiraman taman saat kemarau tentu kita perlu banyak sekali air. Karena itu kami menggandeng pihak Damkar dan PDAM,” ujar Wasis saat dikonfirmasi pada Minggu (7/6/2026).
Kolaborasi strategis ini sangat krusial mengingat DLH harus mengelola total 949 taman di Surabaya, yang terdiri dari 775 taman pasif di jalur hijau dan 174 taman aktif di skala kota maupun permukiman warga.
Kerja sama dengan Damkar dan PDAM ini sengaja dirancang untuk mengatasi keterbatasan pasokan air baku sekaligus memastikan seluruh titik taman mendapatkan perawatan yang merata.
Wasis menjelaskan bahwa pasokan air dari sungai-sungai kecil biasanya akan menyusut drastis saat kemarau, sehingga pemanfaatan sumur kebakaran milik Damkar yang terhubung langsung dengan PDAM menjadi solusi andalan yang tidak akan kehabisan air.
“Nanti juga dibantu sumur kebakarannya Damkar yang langsung connect dengan PDAM yang tidak akan pernah habis. Nanti kita minta izin ambil airnya dan kita laporkan ke Damkar untuk pemakaiannya,” paparnya.
Selain menjamin ketersediaan air, pengerahan unit mobil Damkar ke sejumlah titik taman juga diatur melalui jadwal ketat, agar tidak mengganggu tugas utama Damkar dalam mengantisipasi bencana kebakaran.
”Sistemnya menggunakan skema saling back up wilayah, jadi saat ada unit yang bertugas menyiram taman, tetap ada personel lain yang standby untuk mengantisipasi keadaan darurat,” ungkap Wasis.
Dari sisi teknis di lapangan, para petugas kini diwajibkan memperpanjang durasi penyiraman di setiap lokasi guna memastikan tanaman mendapatkan asupan nutrisi air yang optimal hingga tanah benar-benar basah kuyup.
”Proses penyiraman di satu titik sekarang dilakukan lebih lambat dan harus dipastikan sampai gelomoh atau becek,” pungkas Wasis.
Di sisi lain, Prakirawan BMKG Juanda, Levi Ratnasari, telah menyampaikan bahwa kehadiran fenomena El Nino tahun ini memang memicu lonjakan suhu udara yang dampaknya mulai dirasakan masyarakat secara signifikan.
Mengingat kondisi cuaca yang kian memanas, BMKG Juanda mengimbau warga Surabaya untuk mulai melakukan manajemen penggunaan air secara bijak, menjaga kesehatan fisik, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran.
”Gunakan air secukupnya agar tidak kekurangan saat puncak musim kemarau datang, serta hindari aktivitas yang memicu kebakaran lahan,” tutup Levi. (rma/aje)






