RINGKASAN BERITA:
- Wakil Menteri Haji dan Umrah meninjau langsung kesiapan Hotel Millennium Al Aqeeq Madinah menjelang kedatangan jemaah reguler gelombang kedua.
- Sebanyak 16.930 jemaah haji reguler mencetak sejarah dengan menempati akomodasi mewah bintang empat dan lima setara haji khusus.
- Wamenhaj menginstruksikan petugas untuk memprioritaskan kamar hotel terdekat dari Masjid Nabawi bagi jemaah lansia.
- Pelayanan akomodasi mewah seperti jaringan hotel Hilton dan Makarem ditargetkan siap beroperasi penuh mulai Minggu, 7 Juni 2026.
Madinah (beritajatim.com) – Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Republik Indonesia, Dahnil Anzar Simanjuntak, melakukan inspeksi mendadak ke Millennium Al Aqeeq Hotel di Madinah, Sabtu (6/6/2026) siang, guna memastikan kesiapan akomodasi mewah bagi jemaah haji reguler gelombang kedua.
Langkah terobosan ini mencatatkan sejarah baru dalam dunia perhajian nasional karena untuk pertama kalinya belasan ribu jemaah haji reguler akan menempati fasilitas hotel berbintang empat dan lima yang biasanya eksklusif digunakan oleh jemaah layanan haji khusus.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi bahwa peninjauan ini dilakukan secara mandiri dengan berjalan kaki pasca-salat Zuhur di Masjid Nabawi. Hotel yang disisir tersebut terletak di ring satu dengan jarak hanya sekitar 50 meter dari gerbang pelataran Masjid Nabi.
“Jemaah haji khusus ya? Tapi nanti jemaah haji reguler juga menempati hotel ini lho. Fasilitasnya sama ya ternyata,” canda Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak saat berdialog santai dan melayani sesi foto bersama sejumlah jemaah haji khusus di area lobi hotel.
Saat tiba di lokasi, Wamenhaj mendapati dinamika kepadatan tinggi jemaah asing yang sedang mengantre di depan lift usai kepulangan massal dari Masjid Nabawi. Guna mengefisiensikan waktu peninjauan, Dahnil memilih menggunakan jalur tangga manual menuju lantai 1 untuk memeriksa kelayakan higienitas dan tata ruang restoran hotel.
Setelah menyatakan kepuasannya terhadap kelayakan ruang makan, Wamenhaj kembali menaiki tangga ke lantai atas untuk memvalidasi fasilitas kamar. Di Millennium Al Aqeeq Hotel, ia memeriksa sirkulasi kamar tipe double (dua tempat tidur) dari total tiga variasi spesifikasi kamar yang tersedia di bangunan tersebut.
Dahnil secara tegas memberikan nota instruksi kepada aparatur akomodasi PPIH agar sistem distribusi kamar berjalan secara normatif dan adil tanpa ada celah titipan atau pemesanan khusus (afirmasi).
“Pengaturan normatif saja ya, jangan sampai ada afirmasi. Kalau bisa fasilitas yang bagus ini, utamakan yang sepuh-sepuh lansia,” ujar Dahnil kepada Petugas Akomodasi yang mendampinginya di dalam kamar hotel.
Kepada Media Center Haji, Wamenhaj menegaskan bahwa ekosistem penginapan di Madinah wajib berada dalam status siaga penuh menyambut kedatangan rombongan perdana gelombang kedua pada Minggu (7/6/2026) besok. Sektor akomodasi dipastikan kosong dan bersih mengingat jemaah haji khusus yang menempati area tersebut saat ini sedang bersiap melakukan mobilisasi pemulangan ke tanah air.
Tercatat, total terdapat 16.930 jemaah haji reguler Indonesia yang akan didistribusikan ke jaringan hotel-hotel premier di Madinah. Peningkatan mutu penginapan secara radikal ini diinisiasi untuk mengupgrade indeks kepuasan dan kenyamanan fisik jemaah setelah terkuras pada puncak haji di Armuzna.
“Ini dalam sejarah perhajian kita baru kali ini jemaah kita totalnya itu sekitar hampir 17 ribu orang menikmati hotel berbintang empat dan bintang lima,” ungkap Dahnil dengan nada bangga.
Selain kaveling Millennium Al Aqeeq, Kemenhaj RI telah mengamankan blokade kontrak sewa jangka panjang dengan beberapa korporasi hotel papan atas, antara lain Hotel Hilton, Makarem, dan Front Taiba. Strategi pemetaan zonasi hotel terdekat ini mutlak diprioritaskan demi melindungi mobilitas harian jemaah lansia dan penyandang disabilitas (risti) agar jarak tempuh menuju saf Masjid Nabawi dapat dipangkas seminimal mungkin.
“Hotel-hotel yang dekat-dekat ini pasti banyak akan digunakan oleh jemaah-jemaah kita yang terutama yang lansia, kemudian yang berkebutuhan khusus dan sebagainya,” pungkas Dahnil menutup keterangannya. [ian/MCH]






