Jeddah (beritajatim.com) – Tanah Suci tidak pernah sekadar tentang hamparan batu gersang atau kemegahan Ka’bah yang memijat sanubari. Bagi mereka yang berjalan dengan langkah berbeda, baitullah adalah ruang ujian fisik yang kerap kali menggentarkan.
Namun, di bawah langit musim haji 1447 H / 2026 M, gurun yang panas itu mendadak menjelma menjadi pelataran yang ramah dan menyejukkan iman bagi Dr. M. Anshari, S.Th.I., M.HI., C.SM.
Anshari bukanlah jemaah biasa. Di pundaknya, ia memikul amanah sebagai Ketua Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kalimantan Selatan. Namun di hadapan mikaat dan rukun-rukun suci, ia adalah seorang hamba yang datang dengan segala keterbatasan fisik, mengetuk pintu langit dengan harapan yang membubung tinggi.
Untaian apresiasi yang penuh keharuan mengalir dari bibir Anshari melalui sebuah rekaman video yang dikirimkan dari sela-sela fase kepulangannya di Jeddah, Jumat (5/6/2026). Bagi Anshari, perjalanan spiritual tahun ini adalah bukti nyata bagaimana tangan-tangan negara hadir meruntuhkan dinding-dinding pembatas bagi kaum disabilitas, lansia, dan perempuan.
Ketulusan yang Meruntuhkan Jarak Fisik
“Sebagai penyandang disabilitas dan jamaah haji, saya merasakan langsung bagaimana aksesibilitas yang disediakan pemerintah sangat membantu. Mulai dari asrama haji, hotel, transportasi, hingga berbagai fasilitas pendukung lainnya telah memberikan kemudahan bagi jamaah disabilitas dan lansia dalam menjalankan ibadah,” ujar Anshari dengan getar suara yang sarat akan rasa syukur.
Perjalanan dari pemondokan menuju pelataran tawaf sering kali menjadi momok yang melelahkan. Namun tahun ini, sinergi magis antara Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI bersama otoritas Kerajaan Arab Saudi berhasil menyulap kecemasan itu menjadi kenyamanan. Akses kursi roda yang tertata, bus ramah disabilitas, hingga tata letak maktab yang penuh empati seolah berbisik kepada jemaah bahwa mereka tidak berjalan sendirian.
Lebih dari sekadar bentukan beton atau logam ramah kursi roda, Anshari menemukan untaian “ka’bah” lain pada jubah-jubah petugas haji yang berseliweran di lapangan. Di mata pria bergelar doktor ini, para petugas bukan sekadar pekerja birokrasi, melainkan malaikat-malaikat tanpa sayap yang menuntun langkah-langkah ringkih dengan ketulusan yang murni.
“Saya melihat langsung petugas haji sangat responsif, sabar, sopan, dan ramah. Mereka memahami kebutuhan jamaah disabilitas maupun lansia sehingga pelayanan yang diberikan terasa sangat membantu,” kenangnya dengan mata yang berbinar, mengingat kembali jemari kekar petugas yang tanpa ragu memapah jemaah di tengah lautan manusia.
Sebagai seorang intelektual yang menghabiskan hari-harinya membela hak-hak kesetaraan, Anshari membawa buah pikiran yang tajam dari pengalaman spiritualnya di Makkah dan Madinah. Ia tahu, kesempurnaan adalah proses yang harus terus dipahat.
Dari balik bilik hatinya, ia menitipkan sebuah asa romantis tentang masa depan tata kelola perhajian Indonesia: sebuah cetak biru pendataan jemaah yang jauh lebih presisi dan mendalam. Anshari membayangkan, suatu hari nanti, setiap jemaah disabilitas yang mendaftar haji akan dibekali dokumen atau keterangan kesehatan khusus sejak dari tanah air—sebuah paspor afeksi yang membuat petugas langsung paham jenis bantuan apa yang wajib disiagakan.
“Pendataan yang lebih spesifik sangat penting agar kebutuhan jamaah disabilitas bisa terakomodasi secara maksimal. Begitu juga dengan jamaah lansia yang mengalami demensia atau gangguan daya ingat, perlu pendampingan dan pengawalan khusus selama proses ibadah,” tutur Anshari memetakan gagasannya dengan bijak.
Suara sunyi para penyandang disabilitas sensorik juga tak luput dari perhatiannya. Ia memimpikan jajaran petugas haji masa depan yang dibekali kemampuan bahasa isyarat, sehingga jemaah tunarungu tak lagi terasing di tengah riuhnya talbiyah.
Angin sore di Kota Jeddah berembus perlahan, mengiringi kalimat-kalimat penutup Anshari yang ditujukan kepada Presiden RI dan seluruh pemangku kebijakan. Ibadah hajinya telah usai, namun perjuangannya untuk kemanusiaan yang setara baru saja mendapat bahan bakar baru dari kebaikan yang ia saksikan di Tanah Suci.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Presiden, Kementerian Haji dan Umrah, petugas haji, serta seluruh pihak yang telah berupaya menghadirkan pelayanan yang inklusif. Semoga pelayanan bagi penyandang disabilitas, lansia, dan perempuan terus berkembang dan semakin baik di masa mendatang,” pungkas Anshari, melarung doa terbaiknya ke angkasa. [ian/MCH]






