RINGKASAN BERITA:
- Kemenhaj mengandalkan skema katering ready to eat bercita rasa Nusantara demi efisiensi distribusi di Armuzna.
- Manajemen gizi dipisah secara ketat menjadi 15 porsi di area Masyair dan 6 porsi makanan pengapit di hotel Makkah.
- Distribusi logistik pangan ditargetkan rampung dikirim ke seluruh hotel pemondokan pada Sabtu, 23 Mei 2026.
- Teknologi pengemasan memastikan hidangan tetap higienis dan awet di tengah suhu ekstrem Makkah 44 derajat Celsius.
Makkah (beritajatim.com) – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia mengandalkan skema makanan siap santap (ready to eat) bercita rasa Nusantara selama fase puncak Armuzna guna menjamin kecepatan distribusi nutrisi dan menjaga kebugaran fisik jemaah haji.
Langkah taktis ini dipilih sebagai solusi logistik paling aman untuk menghapus kecemasan jemaah maupun keluarga di tanah air dari risiko keterlambatan pasokan katering di tengah kepadatan jutaan manusia.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, jaminan pemenuhan gizi praktis ini menjadi instrumen pelindungan krusial bagi 182.332 jemaah reguler Indonesia yang kini telah memadati akomodasi pemondokan Makkah.
Berdasarkan data operasional hari ke-29 per Selasa (19/5/2026), total jemaah yang telah diberangkatkan dari tanah air mencapai 186.041 orang dari 481 kloter, di mana rombongan besar asal berbagai Kabupaten/Kota di Jawa Timur (Embarkasi Surabaya/SUB) kini sedang bersiap menghadapi tantangan cuaca panas ekstrem Makkah yang menyentuh angka menyengat 44 derajat Celsius.
Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaff, memaparkan bahwa pemenuhan gizi berkejaran dengan waktu operasional yang sangat sempit dan kompleks di area Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
“Fase Armuzna merupakan periode yang sangat padat dan kompleks. Distribusi makanan dalam jumlah besar pada waktu bersamaan membutuhkan koordinasi lintas sektor, pengaturan logistik yang presisi, dan kesiapan transportasi yang optimal,” urai Maria dalam konferensi pers di Makkah.
Empat Keunggulan Utama Teknologi Siap Santap
Maria menjabarkan ada empat pertimbangan saintifik dan operasional di balik keputusan mempercayakan asupan jemaah pada menu siap saji ini. Pertama, menjamin kecepatan distribusi logistik langsung ke hotel-hotel jemaah. Kedua, memberikan kemudahan konsumsi instan di tengah tingginya mobilitas pergerakan massa selama Armuzna tanpa perlu proses memasak ulang di tenda Masyair.
Ketiga, memiliki ketahanan pangan (masa kedaluwarsa) yang lebih panjang dan adaptif terhadap paparan suhu panas Arab Saudi yang ekstrem. Keempat, mempertahankan standardisasi kebersihan, higienitas tinggi, serta pemenuhan nilai gizi makro yang dibutuhkan tubuh jemaah.
Melalui pemanfaatan teknologi pengolahan dan pengemasan tingkat tinggi, struktur lauk pauk dipastikan steril dari kontaminasi bakteri tanpa merusak unsur vitamin maupun cita rasa aslinya.
“Teknologi pengolahan makanan yang digunakan memungkinkan makanan tetap higienis and aman dikonsumsi dalam jangka waktu lebih panjang tanpa mengurangi kualitasnya,” tambah Maria.
Kehadiran menu familier seperti rendang dan masakan khas Indonesia lainnya sekaligus berfungsi sebagai obat rindu kampung halaman bagi jemaah.
Regulasi Pemisahan 15 Porsi Armuzna dan 6 Porsi Hotel
Kemenhaj mempertegas regulasi pemisahan distribusi katering agar hak makan jemaah terpenuhi secara utuh tanpa tertukar atau memicu antrean panjang. Selama berada di area inti ritual Armuzna (8 hingga 13 Dzulhijjah), jemaah akan dijamin penuh mendapatkan 15 porsi makanan siap santap utama yang disediakan langsung oleh dua syarikah resmi Arab Saudi yang memegang otoritas wilayah, yaitu Rakeen Mashariq dan Albait Guest.
Sebagai pengapit transisi pergerakan massa, jemaah juga dibekali dengan 6 porsi makanan siap santap tambahan untuk dikonsumsi di kamar hotel pada fase pra dan pasca-Armuzna (7, 8, dan 13 Dzulhijjah 1447 H) yang bertepatan dengan tanggal 24, 25, dan 30 Mei 2026.
Sektor logistik transisi di hotel ini disuplai oleh tiga produsen terkemuka asal Indonesia yang lolos uji mutu BPOM dan SFDA, yakni PT Halalan Thayyiban Indonesia, PT Indo Niaga Agro, dan PT Laukita Bersama Indonesia.
Guna mengantisipasi penghentian operasional bus shalawat menjelang pendorongan jemaah ke Arafah yang dijadwalkan bergerak bergelombang mulai Senin, 25 Mei mendatang, Kemenhaj menetapkan batas waktu pengiriman. Seluruh pasokan 6 porsi makanan hotel tersebut wajib rampung terdistribusi masuk ke kamar-kamar jemaah pada 6 Dzulhijjah 1447 H atau Sabtu, 23 Mei 2026.
“Kami memahami kualitas konsumsi sangat memengaruhi kondisi fisik jemaah. Karena itu pengawasan dilakukan ketat mulai dari produksi, pengemasan, hingga distribusi,” tegas Maria sembari mengimbau jemaah agar disiplin mematuhi jadwal kloter, membatasi aktivitas fisik sunnah di luar ruang, serta wajib menghidrasi tubuh dengan air putih minimal 200 ml per jam. [ian/MCH]






