RINGKASAN BERITA:
- Jumlah jemaah haji Indonesia yang dirawat pasca-Armuzna turun menjadi 210 orang dari tahun lalu yang mencapai 300 jiwa.
- Regulasi ketat skrining istitha’ah kesehatan di dalam negeri menjadi faktor utama penurunan angka pasien.
- Faktor kelelahan fisik dan komorbiditas akut seperti diabetes mendominasi pemicu drop-nya kondisi jemaah.
- KKHI Makkah mengoptimalkan rujukan ke rumah sakit mitra seperti Saudi German Hospital untuk penanganan spesialis.
Makkah (beritajatim.com) – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) melalui Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Daerah Kerja Makkah mengonfirmasi penurunan signifikan pada angka jemaah haji Indonesia yang harus menjalani perawatan medis pasca-puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Berdasarkan rekam medis terkini, volume pasien yang masuk ke ruang perawatan intensif merosot tajam bila disandingkan dengan statistik kasus pada musim haji tahun lalu.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi bahwa keberhasilan pemangkasan angka kesakitan ini dipengaruhi secara linier oleh kebijakan hulu pertahanan medis pemerintah yang memperketat parameter kelayakan terbang jemaah.
“Untuk yang sekarang ini pasca Armuzna yang kita rawat itu hampir 210 jemaah. Kalau yang tahun lalu mungkin sekitaran 300 jemaah. Penyebabnya karena istithaahnya mungkin kurang tahun lalu. Tapi sekarang karena kita perketat istithaahnya ya alhamdulillah,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenhaj RI, dr. Dani Pramudya, kepada Tim MCH di Aziziyah, Makkah, Kamis (4/6/2026).
Akumulasi Kelelahan Ekstrem dan Komplikasi Komorbid
Dokter Dani Pramudya memaparkan, indikator penurunan daya tahan tubuh jemaah dipicu oleh kelelahan fisik yang masif setelah menyelesaikan rukun dan wajib haji yang menguras energi di Armuzna. Situasi tersebut kian diperberat oleh status kesehatan sebagian jemaah yang memang sudah mengidap penyakit penyerta (komorbid) sejak dari daerah asal di Indonesia.
“Faktor pertama memang karena kelelahan pasca Armuzna, itu memang paling banyak kasusnya karena kelelahan. Dan ditambah juga adanya komorbit yang membawa dari daerah,” kata Dani merinci evaluasi klinis tim medis.
Salah satu potret komplikasi komorbiditas yang ditangani secara intensif oleh KKHI melibatkan pasien diabetes melitus dengan kadar gula darah yang melonjak tidak terkontrol. Penurunan sensitivitas saraf tepi (neuropati) pada penyandang diabetes memicu insiden cedera fisik yang fatal akibat paparan eksternal di area perhajian.
“Ada yang tadi malam sampai kakinya terbakar, karena mungkin gulanya selalu tinggi. Jadi tidak terasa kakinya itu dia menginjak bara atau aspal yang panas, jadinya ada terbakar, seperti itu. Tapi ya kondisi seluruhnya itu aman,” ucapnya membeberkan dinamika lapangan.
Bagi pasien jemaah yang terdeteksi membutuhkan intervensi medis tingkat lanjut dan penanganan spesifik, KKHI Makkah langsung mengaktifkan jalur evakuasi rujukan cepat. Kemenhaj mengintegrasikan penanganan darurat ini dengan jejaring rumah sakit lokal Arab Saudi yang memiliki fasilitas kedokteran mutakhir.
Dani mengungkapkan, pasien jemaah haji Indonesia yang membutuhkan perawatan lanjutan umumnya dirujuk ke rumah sakit mitra, seperti Rumah Sakit An-Nur dan Saudi German Hospital (SGH) di Makkah. Sinergi ini mencakup penanganan penyakit-penyakit yang membutuhkan tindakan dokter spesialis organ dalam.
“Karena mereka (jemaah) kekhususan ada spesialisnya misalnya jantung, terus kemudian paru-paru, memang kita kerjasamanya dengan SGH, kita juga banyak ke sana SGH,” tuturnya.
Di samping penanganan kluster makro pasca-Armuzna, tim medis PPIH juga bergerak taktis menyelesaikan penanganan sekitar 20 jemaah yang mengalami penurunan kondisi kesehatan menjelang jadwal kepulangan mereka menuju bandara di Jeddah. Seluruh pasien pra-pemulangan tersebut dikonfirmasi sudah ditangani dengan baik dan berada dalam pengawasan ketat.
Faktor adaptasi cuaca yang berjalan baik di kalangan jemaah juga dinilai ikut andil dalam menekan angka kesakitan. Kendati demikian, menjelang mobilisasi kepulangan massal ke tanah air, Pusat Kesehatan Haji mengeluarkan instruksi tegas kepada seluruh jemaah untuk membatasi aktivitas fisik di luar pemondokan, memperbanyak waktu relaksasi, serta menjaga konsumsi makanan sehat.
“Ya, pesan khususnya yang sangat-sanger perlu kami tekankan, jemaah itu banyak istirahat. Nah istirahat, makan yang cukup, karena juga kalau misalnya terlalu capek, akhirnya berpotensi terhadap semua ya, jadi nggak mau makan dan lain-lain itu akhirnya juga drop,” ujar dr Dani mengingatkan. [ian/MCH]






