Ringkasan Berita:
- Badan Gizi Nasional membuka peluang perguruan tinggi membangun Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), namun Universitas Jember masih memerlukan kajian serius sebelum implementasi.
- Rektor Unej, Iwan Taruna, menyatakan pembangunan SPPG memerlukan modal besar sekitar Rp 1,5–2 miliar, sehingga universitas belum memasukkan rencana tersebut dalam anggaran tahun ini.
- Unej memiliki program studi terkait gizi dan pertanian, namun keterlibatan dalam MBG akan mempertimbangkan aspek akademik dan sikap sivitas, termasuk potensi penolakan mahasiswa.
Jember (beritajatim.com) – Badan Gizi Nasional membuka peluang perguruan tinggi untuk membangun satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun perlu kajian serius untuk diterapkan di Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur.
“Kita harus mengkaji dulu. Tidak bisa tiba-tiba, harus ada perencanaan. Anggaran untuk tahun ini sudah di-dok sebelumnya,” kata Rektor Unej Iwan Taruna kepada Beritajatim.com, Sabtu (16/5/2026).
Menurut Iwan, pembukaan SPPG butuh modal besar, kurang lebih Rp 1,5 miliar – 2 miliar untuk membangun dapur dan peralatan. “Kita masih ini masih belum ke sana. Tapi kita pertimbangkan, karena itu kebijakan pemerintah. Siapa tahu nanti berguna jadi laboratorium,” katanya.
Unej memiliki Program Studi Ilmu Gizi dan Program Studi Teknologi Hasil Pertanian yang relevan dengan program Makan Bergizi Gratis. “Tapi sementara kita belum punya rencana itu (membangun SPPG). Kita fokusnya bukan di situ,” kata Iwan.
Iwan akan mempertimbangkan semua aspek untuk menentukan perlu tidaknya Unej terlibat dalam program MBG. Salah satu aspek adalah sikap dari sivitas akademika, termasuk mahasiswa.
Iwan tak ingin menganggap remeh suara penolakan dari internal Unej. “Itu jadi pertimbangan. Iyolah, mengko penggaweane luwih gede ngurusi iku ketimbang ngurusi pawone kan susah (nanti kerjaannya lebih besar mengurus penolakan daripada dapurnya kan susah, red),” katanya. [wir/suf]






