Surabaya (beritajatim.com) – Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) resmi mendeklarasikan mahasiswanya sebagai Sahabat Anak. Langkah ini melengkapi keterlibatan kampus dalam program Dinamika Arek Suroboyo Hebat (DASH).
Program DASH merupakan inovasi Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya lewat Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A-PPKB).
Kegiatan ini menyasar peserta didik untuk mencegah kenakalan remaja, perundungan, hingga kekerasan anak. Sepanjang 2026, agenda ini bergulir di 1.213 SD dan SMP se-Surabaya.
Umsura menerjunkan empat dosen sebagai narasumber ahli. Puluhan mahasiswa juga turun langsung menjadi fasilitator pendamping siswa di berbagai sekolah.
Dekan Fakultas Psikologi Umsura, Dr. Dewi Ilma Antawati menjelaskan, partisipasi ini adalah wujud nyata pengabdian kepada masyarakat. Mahasiswa bisa mempraktikkan keilmuannya di lapangan.
“Program DASH menjadi ruang belajar yang sangat baik bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu psikologi secara langsung di masyarakat,” kata Dewi, Rabu (1/7/2026).
Menurut Dewi, kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah menjadi langkah taktis. Hal ini diarahkan untuk membangun generasi muda berkarakter dan adaptif.
“Sinergi ini menunjukkan bahwa upaya mewujudkan lingkungan yang ramah anak membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, keluarga, hingga perguruan tinggi,” imbuhnya.
Puncak partisipasi kampus ditandai lewat Deklarasi Mahasiswa Psikologi Umsura sebagai Sahabat Anak. Deklarasi ini mengikat komitmen mahasiswa untuk aktif melindungi hak-hak anak.
Perwakilan mahasiswa Fakultas Psikologi Umsura, Rosihan Agil Ardana menyebut program ini memberikan pengalaman berharga. Menurutnya, ilmu dari bangku kuliah tidak berhenti di dalam kelas.
“Melalui kegiatan DASH, kami belajar bahwa menjadi mahasiswa psikologi bukan hanya memahami teori di ruang kuliah, tetapi juga hadir untuk memberikan manfaat nyata,” ungkapnya.
Ia menegaskan deklarasi tersebut bukan sebatas simbol formalitas. Ikrar ini menjadi jaminan jangka panjang untuk ikut serta mencegah kasus perundungan di lingkungan sekolah.
“Deklarasi Sahabat Anak merupakan komitmen kami untuk menjadi pribadi yang peduli, menghargai hak-hak anak, serta ikut mengampanyekan pencegahan bullying,” tegasnya.
Kolaborasi kampus dan Pemkot Surabaya ini diharapkan berjalan konsisten. Sebab, ketahanan psikologis anak usia dini menjadi fondasi penting dalam menghadapi tantangan masa depan. [ipl/but]






