Ringkasan Berita:
- Inspektorat Jenderal Kemenhaj memverifikasi kesiapan syarikah Rakeen Mashariq dan Al Bait Guests di Kota Makkah.
- Pengawasan mencakup audit fasilitas di Arafah, Muzdalifah, dan Mina agar sesuai dengan spesifikasi teknis dalam kontrak.
- Langkah ini merupakan bagian dari instruksi Presiden Prabowo Subianto untuk menghadirkan layanan haji terbaik.
- Sebanyak 125.243 jemaah Indonesia yang telah tiba menjadi fokus utama dalam pemantauan hak dan kualitas layanan.
Makkah (beritajatim.com) – Inspektorat Jenderal Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia memperketat pengawasan terhadap syarikah penyedia layanan di Makkah guna memastikan seluruh fasilitas bagi jemaah haji 2026 terpenuhi sesuai kontrak. Langkah ini diambil untuk menjamin spesifikasi teknis, kualitas, hingga kuantitas pekerjaan yang diberikan pihak ketiga selaras dengan regulasi pemerintah.
Inspektur Jenderal Kemenhaj RI, Mayjen TNI (Purn) Dendi Suryadi, memimpin langsung pertemuan strategis dengan pimpinan syarikah Rakeen Mashariq dan syarikah Al Bait Guests pada Sabtu malam (9/5/2026). Pertemuan yang berlangsung di kantor masing-masing syarikah di Kota Makkah ini bertujuan memperkuat kemitraan sekaligus melakukan fungsi kontrol terhadap kesiapan pelayanan.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, pengawasan ini dilakukan di tengah suhu ekstrem yang mencapai 42 derajat Celsius. Itjen Kemenhaj ingin memastikan bahwa jemaah, termasuk puluhan ribu lansia, mendapatkan perlindungan maksimal saat memasuki fase puncak haji nanti.
Inspektur Wilayah III Kemenhaj, Mulyadi Nurdin, Lc, MH, menjelaskan bahwa kehadiran tim Inspektorat merupakan mandat untuk mengawal integritas penyelenggaraan haji. “Penyedia layanan dalam hal ini Syarikah adalah mitra strategis kita dalam memberikan layanan kepada jemaah haji, pihak Inspektorat Jenderal sebagai Pengawas dalam proses penyelenggaraan haji, ingin memastikan semua layanan berjalan sesuai regulasi dan kontrak yang telah ditandatangani,” ujar Mulyadi Nurdin.
Selain pertemuan formal, tim pengawas melakukan pemantauan langsung ke kawasan Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Fokus utama inspeksi ini adalah mengecek progres persiapan tenda, pendingin ruangan, dan fasilitas sanitasi yang akan digunakan oleh jemaah Indonesia. Sejauh ini, tim melihat pelayanan berjalan lancar dan persiapan di Armuzna menunjukkan progres yang sesuai jadwal.
Alumni Lemhannas RI tersebut menambahkan bahwa Inspektur Jenderal memberikan penekanan khusus kepada penyedia layanan mengenai hak-hak jemaah. “Pak irjen, Dendi Suryadi menegaskan kepada pimpinan Syarikah agar standar layanan yang diberikan sesuai dengan kontrak yang telah ditandatangani antara Kementerian Haji dan Umrah dengan pihak syarikah, dalam kontrak pastinya sudah disebutkan hak dan kewajiban, spesifikasi teknis, kualitas dan kuantitas pekerjaan,” tegas Mulyadi.
Upaya pengawasan berlapis ini merupakan instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto agar penyelenggaraan haji tahun ini jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Menteri Haji dan Umrah, Gus Irfan Yusuf, beserta Wakil Menteri Dahnil Anzar Simanjuntak, telah menetapkan standar layanan terbaik sebagai prioritas utama.
Berdasarkan data operasional, hingga saat ini sebanyak 125.243 jemaah haji Indonesia telah diberangkatkan ke Tanah Suci. Dengan jumlah jemaah lansia yang mencapai 48 ribu orang, Itjen Kemenhaj berkomitmen melakukan pengawasan menyeluruh terhadap kinerja dan keuangan melalui audit, reviu, hingga pemantauan di lapangan guna meminimalisir kendala teknis saat puncak ibadah haji berlangsung. [ian/beq]






