Makkah (beritajatim.com) – Di antara deretan jemaah haji 2026 yang didominasi oleh rambut-rambut beruban dan langkah kaki yang mulai melambat, hadirnya Novem Bill Ichtiar (17) dan Vania Ulayya (14) laksana embun di tengah terik Madinah.
Dua remaja asal Yogyakarta ini membuktikan bahwa panggilan menuju Baitullah tidak mengenal batas usia, melainkan tentang kesiapan ruhani dan keteguhan cinta orang tua yang telah merajut mimpi sejak belasan tahun silam.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, suasana haru biru menyelimuti kedatangan mereka.
Meski sama-sama berangkat di usia belia, Novem dan Vania membawa ransel cerita yang berbeda—satu tentang perencanaan masa depan yang matang, satunya lagi tentang amanah terakhir yang melintasi garis kematian.
Novem: Tabungan Tenaga dari Punggung Seorang Ayah
Bagi Novem Bill Ichtiar, keberangkatan di usia 17 tahun adalah buah dari kesabaran selama 14 tahun. Ayahnya, Subur Adi Cahyono, seorang tekniker gigi yang tekun, telah mendaftarkannya sejak Novem masih balita berusia tiga tahun pada 2012. Di mata Subur, haji bukan sekadar tentang ongkos, melainkan pertempuran fisik yang menuntut stamina prima.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur kepada Allah atas segala nikmat, sehingga saya sebagai orang tua bisa memfasilitasi anak untuk menunaikan rukun Islam yang kelima,” ujar Subur. Baginya, menyisihkan rezeki setiap hari adalah investasi langit agar sang anak dapat memeluk Ka’bah saat fisiknya masih segar bugar.
Novem pun menjalaninya dengan takzim. Di bawah bimbingan sang ayah, ia melatih fisik dan mematangkan manasik. Namun, di antara sujudnya di Masjid Nabawi, ada satu doa yang terus ia langitkan untuk sosok yang belum bisa bersamanya. “Buat ibu, semoga selalu sehat dan panjang umur,” tutur Novem lirih, membawa rindu sang ibu dalam setiap langkah ibadahnya.
Vania: Warisan Rindu dan Nazar yang Menepi
Jika Novem berangkat sebagai rencana masa depan, Vania Ulayya menapakkan kakinya di Makkah sebagai pemenuh janji dan pelanjut estafet rindu. Siswi kelas VIII SMP IT Assalam Sanden ini merupakan jemaah haji termuda dari DIY. Keberangkatannya adalah pelimpahan dari sang ayah yang wafat akibat gagal ginjal, hanya dua bulan setelah surat pelimpahan resmi terbit pada akhir 2025.
Bagi sang ibu, Heni Dwi Astuti, Vania adalah keajaiban. Setelah menunggu enam tahun tanpa momongan, kehadiran Vania pada 12 Januari 2012 langsung disambut dengan nazar pendaftaran haji. “Dulu orang tua berpesan agar menahan diri membeli barang duniawi sebelum mendaftar haji. Jadi, begitu Vania lahir, prioritas utama adalah mendaftar haji,” kenang Heni dengan mata berkaca-kaca.
Vania yang baru berusia 14 tahun kini memikul amanah itu di pundaknya yang masih mungil. Ia rutin joging setiap pagi di tanah air untuk menyiapkan raga melawan cuaca ekstrem 42 derajat Celsius di Madinah.
Saat berada di Raudhah, tangisnya pecah. Ia menitipkan doa untuk sang ayah yang kini hanya bisa ia temui dalam mimpi. “Saya doakan Ayah supaya mendapat tempat terbaik di sisi-Nya,” ucapnya haru.
Dua Tunas, Satu Tujuan
Novem dan Vania adalah simbol dari jurnalisme konstruktif yang menunjukkan bahwa regenerasi tamu Allah tengah berlangsung. Meskipun Novem merupakan seorang pemuda dan Vania seorang remaja putri, keduanya dipersatukan oleh satu takdir: memulai perjalanan pendaftaran pada tahun 2012 dan tiba di Kota Nabi pada 2026.
Kehadiran mereka memberikan pesan kuat bagi generasi muda bahwa haji tidak harus menunggu masa tua. Melalui tangan dingin orang tua seperti Subur dan Heni, mimpi menuju Tanah Suci bisa dipupuk sejak ayunan buaian.
Kini, di bawah langit Madinah yang membara, kedua remaja ini terus melangkah, memastikan bahwa energi muda mereka sepenuhnya diserahkan untuk menghamba pada Sang Pencipta. [ian/MCH]






