Jombang (beritajatim.com) – Masih ingat Choirun Nasichin? Pria asal Dusun Ngrumek, Desa Nglele, Kecamatan Sumobito, Jombang yang membuat gempar Indonesia karena pergi haji dengan cara menyusup ke pesawat terbang pada 1992.
Saat ini Choirun usianya sudah 61 tahun. Dia tinggal di Desa Pacing Kecamatan Bangsal Kabupaten Mojokerto. Dia menjadi muthawif (pemandu atau pembimbing ibadah haji dan umrah) . “Kadang juga bantu-bantu orang menjualkan tanah,” kata Choirun ketika dihibungi beritajatim.com, Rabu (21/6/2023).
Bagimana dengan rumah di Jombang? Menurut pria kelahiran 4 Agustus 1962 ini, rumah di Dusun Ngrumek tersebut ditempati oleh adiknya. “Ya, sesekali saya masih ke Sumobito Jombang. Tapi lebih banyak tinggal di Mojokerto,” kata Chroirun melanjutkan.
Disinggung soal dirinya yang pernah ‘menyusup’ ke pesawat terbang dalam rangka ibadah haji ke tanah suci pada 1992, Choirun masih ingat. Bahkan menurutnya, kenangan tersebut tidak akan terhapus dalam hidupnya. Karena dengan kejadian itulah dirinya dijuluki ‘Kaji Nunut’.
Masih basah dalam ingatan Choirun, saat itu umurnya menginjak 30 tahun. Sedangkan ongkos naik haji atau ONH sebesar Rp 6 juta, namun Choirun hanya berbekal uang Rp 54.950 berani menunaikan rukun Islam kelima.
Kejadian 31 tahun silam itu masih segar dalam ingatan Choirun. Bahkan, dia masih gamblang menceritakan bagian per bagian peristiwa heboh itu. Mulai dari berangkat dari Jombang dengan naik bus ke Terminal Bungurasih Surabaya, hingga menyelinap naik ke pesawat terbang Garuda yang mengangkut rombongan CJH (Calon Jamaah Haji) di Bandara Juanda.
‘Nggandol’ Pesawat ke Tanah Suci
Choirun juga masih ingat, saat itu dirinya hanya membawa perbekalan sepotong pakaian ihram dan uang sebesar Rp 54.950. “Setelah kejadian itu saya menjadi terkenal. Karena semua media memberitakan. Sejak itu pula saya dijuluki Kaji Nunut atau Haji Nunut alias Haji Nebeng (numpang),” kata Choirun.
Choirun memang lahir dari keluarga sederhana, bahkan bisa dikategorikan pas-pasan. Jangankan untuk ongkos naik haji yang mencapai Rp 6 juta, untuk makan sehari-hari saja keluarganya menggantungkan hidup dari sebuah toko pracangan yang menjual rokok, kerupuk dan es.
Sedangkan sang bapak bekerja sebagai buruh tani. Meski pas-pasan soal ekonomi, namun keluarga Choirun kaya iman. Mereka semua ahli ibadah. Maka tidak heran jika di depan rumah orangtuanya Dusun Ngrumek, berdiri musala atau langgar yang dibangun sejak 1946.
Lantas mengapa meski pas-pasan secara ekonomi, anak kedua dari enam ini nekad berangkat haji dengan cara tak lazim? Choirun beralasan, menjalankan ibadah haji bukan hanya monopoli orang berduit. Selain itu, dirinya juga ingin menyempurnakan ibadah dengan menunaikan rukun islam kelima.
BACA JUGA:
Air Mata dan Doa Iringi Keberangkatan Calon Jemaah Haji Jombang
Apalagi saat itu, anak pasangan Zainudin dan Siti Qofsah ini sudah akrab disapa Kaji (Haji). “Saya belum pernah menunaikan ibadah haji, tapi oleh warga sudah dipanggil ‘Wak Kaji’,” kata pria kelahiran 4 Agustus 1962, ini.
Nah, julukan ‘Wak Kaji’ itulah yang melecut warga Dusun Ngrumek ini berangkat ke tanah suci. Munculnya julukan itu, menurut Choirun, bukan tanpa alasan. Hal tersebut tidak lepas dari peci warna putih yang selalu bertengger di kepalanya.
Peci haji itu selalu ia kenakan sepanjang hari. Bahkan saat pergi ke sawah dan mengantar sang ibu pergi ke pasar, peci tersebut tidak pernah ketinggalan. Peci putih itu baru dilepas saat Choirun tidur.
“Sejak itu atau sekitar tahun 1990-an saya bertekat untuk bisa naik haji. Karena orang sekampung sudah terlanjur memanggil saya dengan embel-embel Wak Kaji. Namun lagi-lagi, tingginya biaya menjadi kendala. Untuk makan sehari-hari saja, ibu saya jualan kerupuk, bapak saya kerja buruh tani. Mana mungkin bisa naik haji,” katanya mengenang.
Ikut Undian
Pun demikian, suami dari warga Bangsal, Mojokerto ini tidak patah arang. Ia semakin rajin mendekatkan diri kepada Allah. Selain melakukan salat wajib dan salat sunah, Choirun juga rajin berpuasa. Setiap selesai salat dia selalu berdoa agar bisa berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji.
Di luar itu, Choirun iseng-iseng mengikuti kuis yang digelar produk shampo. Bersama adiknya yang bernama Umi Naila, ia mengirimkan ratusan kemasan shampo ke sebuah radio swasta di Jombang untuk diundi.
Upaya itu membuahkan hasil. Saat pengundian kuis tersebut, Umi Naila menjadi salah satu peserta yang beruntung. Dia berhak mendapatkan hadiah gelang emas seberat 5 gram. Oleh Choirun, gelang itu kemudian dijual ke toko perhiasan di Pasar Peterongan, Jombang seharga Rp 76 ribu. Nah, uang itulah yang digunakan oleh warga Ngrumek ini untuk modal berangkat ke Mekah.
BACA JUGA:
Masih di Pendapa Jombang, CJH Lansia Sudah Kebingungan
Choirun masih ingat, saat itu bulan Mei 1992 atau bertepatan dengan musim haji. Hasil penjualan gelang emas tersebut kemudian dibelanjakan keperluan ibadah haji, seperti tas dan baju ihram. Tidak lupa, Choirun juga belajar manasik dari berbagai buku. “Belanja tas dan baju ihram itu menyedot uang Rp 26.050. Sedangkan sisanya saya simpan untuk biaya perjalanan ke Surabaya hingga Mekah,” katanya berkisah.
Saat pulang ke rumah, kedua orang tua Choirun terkaget-kaget mengetahui sang anak belanja keperluan ibadah haji. Baik Zainudin maupun Siti Qofsah melarang anaknya yang nomor dua itu berangkat menunaikan rukun islam kelima. Bukan apa, mereka tidak tega karena Choirun tidak punya bekal keuangan yang cukup. Terlebih lagi, selama ini Choirun juga tidak pernah mendaftar sebagai CJH di Kabupaten Jombang.
Hanya saja, larangan itu tak membuat nyali Choirun menjadi ciut. Sehingga dengan terpaksa kedua orang tuanya merestui keberangkatan sang anak. Layaknya CJH, keberangkatan Choirun diiringi derai air mata. “Saya berangkat tanggal 11 Mei 1992. Karena tidak tega, emak saya nambahi uang saku sebesar Rp 5 ribu. Jadi total uang yang saya bawa Rp 54.950,” ujarnya merinci.
Berangkat ke Bandara
Dari Jombang, Choirun naik bus antar kota menuju Terminal Bungurasih Surabaya. Tidak lupa, dia mampir dulu untuk pamitan ke rumah neneknya di kawasan Wonokromo. Setelah itu, baru meluncur ke Bandara Juanda untuk ‘nunut’ pesawat Garuda menuju Makkah.
Matahari masih terik ketika dia menginjakkan kaki di bandara international tersebut. Namun Choirun sempat bingung karena tidak tahu mana pesawat yang akan terbang mengantarkan CJH ke Arab Saudi.
Setelah bertanya kesana kemari, warga Sumobito ini akhirnya mengetahui bahwa pesawat CJH berangkat selepas isya. Sembari menunggu datangnya ‘burung besi’ pengantar CJH tersebut, pria berperawakan kurus ini istirahat di musala. Selama itu pula, wirid dan doa keselamatan tak lepas dari mulutnya. Dia berharap, perjalanannya ke Tanah Suci bisa mulus meski tak mengantongi persyaratan secuilpun.
BACA JUGA:
Pedagang Pasar di Jombang Naik Haji Setelah 10 Tahun Menabung
Doa yang diucapkan warga Jombang ini ternyata mustajabah. Buktinya, saat Choirun naik pesawat Garuda bersama ratusan CJH lain, dia lolos dari pemeriksaan. Padahal saat itu seluruh CJH menjalani pemeriksaan petugas. Bahkan anak dari pasangan Zainudin – Siti Qofsah ini bisa masuk kabin pesawat hingga menjalani penerbangan menuju Saudi Arabia.
“Saya memang nunut, jadi pasrah saja. Kalau ketahuan, terus diturunkan ya turun. Yang penting saya tidak berniat jahat, saya memang ingin naik haji. Ternyata petugas di bandara tidak memeriksa saya, bahkan saya bisa mendapat tempat duduk di pesawat waktu itu,” kata Choirun polos. [suf/bersambung]






