RINGKASAN BERITA:
- PPIH Makkah memanfaatkan teknologi Zoom dan YouTube untuk edukasi jemaah guna menyiasati keterbatasan ruang mushala hotel.
- Jemaah dilarang melakukan ziarah ke luar Kota Makkah demi menghemat energi menjelang puncak ibadah di Armuzna.
- Materi edukasi mencakup fikih haji, manajemen kesehatan, hingga jaminan layanan prioritas bagi jemaah lansia dan disabilitas.
- Pelaksanaan ibadah tarwiyah secara mandiri wajib dilaporkan secara resmi melalui formulir khusus guna memastikan perlindungan jemaah.
Makkah (beritajatim.com) – Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Daerah Kerja (Daker) Makkah mulai memasifkan program visitasi dan edukasi (visduk) guna memastikan kemandirian ibadah ribuan jemaah haji Indonesia menjelang puncak haji 2026.
Langkah ini diambil sebagai bentuk pengawasan berjenjang untuk menjamin setiap jemaah memahami seluruh rangkaian rukun haji sekaligus mampu menjaga kesehatan di tengah suhu ekstrem Makkah yang kini mencapai 40 derajat Celsius lebih.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, penguatan bimbingan ibadah ini dilakukan mengingat total kedatangan jemaah Indonesia di Tanah Suci telah mencapai 89.051 orang hingga awal Mei. Program ini memastikan setiap pembimbing ibadah turun langsung ke sektor-sektor untuk menyentuh jemaah di level hotel pemondokan.
Pelaksana Layanan Bimbingan Ibadah Daker Makkah PPIH Arab Saudi, Arif Rahman, menyatakan bahwa program visduk merupakan instrumen penting bagi Daker Makkah yang membawahi 10 sektor dan satu sektor khusus.
“Tugas Daker adalah melakukan pengawasan terhadap program visduk di sektor. Tujuannya untuk memastikan sejauh mana program-program bimbingan ibadah benar-benar sampai dan dipahami oleh jamaah haji kita,” kata Arif di Makkah, Selasa (5/5/2026).
Teknologi sebagai Solusi Edukasi
Meskipun kapasitas mushala hotel di Makkah bervariasi dan sering kali terbatas, PPIH tidak kehilangan akal untuk menyampaikan materi bimbingan. Penggunaan teknologi digital menjadi kunci dalam memperluas jangkauan edukasi agar jemaah yang sedang beristirahat di kamar tetap bisa mengikuti bimbingan.
“Kapasitas mushola hotel memang berbeda-beda, tapi itu bukan hambatan. Kami memanfaatkan teknologi dengan membuat tautan Zoom atau YouTube. Jadi, selain yang hadir fisik di mushola, jamaah yang sedang beristirahat di kamar tetap bisa mendapatkan layanan edukasi ini,” ujar Arif.
Materi yang disampaikan dalam visduk didesain secara komprehensif, mencakup aspek fikih haji hingga manajemen kesehatan. Hal ini selaras dengan program kemandirian jemaah yang didorong Kemenhaj, terutama bagi kelompok rentan.
“Kondisi khusus seperti jamaah lanjut usia (lansia) dan disabilitas harus dipastikan mendapatkan layanan bimbingan ibadah yang setara dan memadai,” tegasnya.
Persiapan Armuzna dan Larangan Ziarah Jauh
Menjelang fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), PPIH mulai mengerucutkan materi edukasi pada hal-hal teknis pelaksanaan wukuf hingga kebijakan nafar awal.
Jemaah diimbau keras untuk menghemat energi dan dilarang melakukan aktivitas ziarah ke luar Kota Makkah yang dapat menguras stamina fisik secara drastis.
Terkait pelaksanaan tarwiyah, pemerintah mengambil posisi netral namun tetap mengedepankan aspek perlindungan. Bagi jemaah atau Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) yang tetap memilih melaksanakannya secara mandiri, PPIH mewajibkan adanya pelaporan resmi melalui formulir yang telah disediakan.
“Kami sudah menyiapkan formulir yang harus diisi. Intinya harus ada jaminan bahwa ibadah jamaah terjamin, keamanannya terjaga, dan fasilitas dasar seperti makan serta tempat tidur tidak terbengkalai,” pungkas Arif.
Langkah antisipasi ini krusial untuk mencegah kendala logistik dan keamanan di tengah kampanye ketat otoritas Arab Saudi terhadap jemaah non-prosedural. [ian/MCH]






