Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Ciputra (UC) Surabaya mengambil langkah berani dengan membangun ekosistem pendidikan inklusif yang digerakkan oleh integrasi data dan platform digital terpadu.
Langkah progresif ini membedakan UC dari perguruan tinggi lain yang mayoritas sebatas menyediakan fasilitas fisik. Inisiatif itu diumumkan dalam lokakarya kesadaran disabilitas bersama Kementerian Sosial (Kemensos) RI.
“Kesalahan terbesar kampus adalah tidak memulai membangun kesadaran dan menciptakan lingkungan inklusif,” ujar Penyuluh Sosial Ahli Muda Kemensos RI, Santi Utami Dewi, dikutip Selasa (5/5/2026).
Santi menilai tantangan utama dalam mewujudkan kesetaraan akademik tidak terletak pada ketersediaan sumber daya. Persoalan mendasar bagi institusi pendidikan justru berakar pada keberanian melangkah. “Universitas Ciputra menunjukkan langkah nyata yang patut diapresiasi,” ucapnya.
Sebagai wujud nyata, kampus merilis Pedoman Panduan Kelas Inklusif sekaligus memutakhirkan platform Ciputra Education Digital Experience (CEDX). Dasbor internal ini resmi dirombak menjadi kerangka pendukung kelancaran belajar mengajar.
“Kami ingin inklusivitas tidak hanya berhenti pada awareness, tetapi masuk ke sistem,” kata Ketua Satgas Disabilitas UC, Yehuda Abiel.
Lewat pembaruan digital ini, informasi penyandang disabilitas langsung terhubung ke dalam ruang kemudi akademik. Setiap tenaga pendidik bisa melihat panduan khusus terkait mahasiswa di kelasnya masing-masing.
“Melalui CEDX, dosen dapat mengakses informasi mahasiswa disabilitas di kelasnya, lengkap dengan panduan yang relevan,” rincinya.
Ekspansi teknologi ini dijadwalkan menjangkau ranah pendampingan akademik pada September mendatang dengan tetap mengunci ketat privasi. Perlindungan data dihormati secara mutlak lewat kewajiban persetujuan tertulis dari mahasiswa.
“Inklusivitas harus hadir dalam sistem, agar dosen bisa mengajar dengan lebih percaya diri dan mahasiswa bisa belajar dengan optimal,” tutup Yehuda. [ipl/suf]






