Surabaya (beritajatim.com) – Pengurus Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 (YPTA) Surabaya membeberkan strategi tata kelola institusi swasta yang efisien dan minim birokrasi dalam forum pendidikan tingkat nasional di Jakarta.
Pemaparan itu berlangsung pada lokakarya Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ABP PTSI) akhir April lalu. Ratusan perwakilan kampus swasta hadir mendiskusikan keberlanjutan institusi.
Ketua Pengurus YPTA Surabaya, J. Subekti, membawa formasi lengkap jajarannya. Rektor Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya turut dilibatkan secara langsung sebagai perwujudan transparansi internal.
“Rektor Untag Surabaya kami ajak sebagai peninjau agar apa yang menjadi perbincangan di tingkat yayasan juga diketahui rektor. Itu merupakan keterbukaan kami,” ucapnya, Senin (4/5/2026).
Dalam pertemuan itu, Subekti menekankan pentingnya efisiensi organisasi. Yayasan memangkas jalur birokrasi rumit agar setiap permasalahan kampus segera mendapat titik temu dan ditangani secara cepat.
“Kami menggunakan prinsip miskin struktur, kaya fungsi. Struktur yayasan tidak perlu besar, cukup efektif agar problem langsung diatasi dengan solusi nyata,” tegasnya.
Diskusi antarlembaga berlanjut di luar agenda formal. Sejumlah delegasi kampus dari Medan, Jakarta, hingga Jombang antusias menanyakan resep keberlanjutan tata kelola institusi di lingkungan Untag Surabaya.
“Jawaban saya hanya satu, yaitu konsistensi. Kami memiliki rencana pembangunan jangka panjang yang jelas dan adaptif terhadap perubahan tanpa mengubah arah besar,” jelas Subekti.
Tantangan kemitraan luar negeri ikut dibahas dalam lokakarya tersebut. Eksekusi program internasionalisasi kampus diwajibkan membawa dampak positif bagi peningkatan mutu pendidikan tinggi nasional.
“Melangkah ke luar negeri bukan hanya menjalin relasi, tetapi bagaimana ilmu dari mitra bisa dibawa pulang dan disesuaikan dengan kebutuhan Indonesia,” paparnya.
Pembangunan infrastruktur mandiri menjadi keunggulan lain yang dipraktikkan. Yayasan memaksimalkan tenaga ahli internal untuk merancang tata ruang institusi sehingga pengeluaran anggaran lebih hemat dan terukur.
“Kami memanfaatkan sumber daya internal kampus yang dimiliki sehingga pembangunan dapat berjalan lebih efisien serta sesuai dengan kebutuhan nyata institusi,” katanya.
Yayasan meyakini pembentukan identitas spesifik sangat diperlukan bagi kampus swasta. Penanaman karakter kebangsaan melalui praktik nyata menjadi dasar utama sebelum mahasiswa mendalami materi akademik.
“Pendidikan di Indonesia harus berorientasi pada pembentukan akhlak, moral, dan karakter. Baru kemudian hal tersebut diperkuat dengan ilmu, teknologi, serta manajemen,” ujar Subekti.
Strategi yang telah teruji ini diharapkan mampu menginspirasi pengelola pendidikan lainnya. Kolaborasi antarlembaga menjadi penentu dalam menghadapi dinamika kebijakan pendidikan tinggi di masa mendatang.
“Kelebihan yang kami miliki perlu dibagikan kepada teman-teman dari institusi lain agar bersama-sama dapat berkembang dan memperkuat kualitas pendidikan tinggi di Indonesia,” tutupnya.
Sebagai informasi, hadir pula jajaran YPTA Surabaya pada forum itu antara lain Sekretaris Anom Maruta, Bendahara Ontot Murwato, dan Rektor Untag Surabaya Harjo Seputro, serta Direktur Umum dan Sumber Daya Manusia Eddy Wahyudi. [ipl/but]






