Madinah (beritajatim.com) – Mbah Musthofa (66), seorang petani dari Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, menunaikan niat sucinya bersujud di Masjid Quba, Madinah, pada musim haji 2026 setelah menanti selama 13 tahun.
Di tengah ribuan jemaah yang memadati masjid pertama yang dibangun Rasulullah itu, Musthofa hadir membawa identitas luhurnya sebagai seorang petani: sebuah caping bambu yang melingkar di kepala.
Bagi pria yang sehari-harinya bergulat dengan lumpur sawah ini, menginjakkan kaki di Madinah adalah sebuah anomali yang indah. Cerita-cerita tentang keagungan kota Nabi yang dulu hanya ia dengar dari lisan ke lisan atau ia saksikan lewat layar televisi, kini terbentang nyata di hadapannya.
“Saya pernah dengar tentang Masjid Quba, ya dari orang cerita, nonton di televisi. Sekarang saya bersyukur bisa berada di Masjid Quba,” tuturnya dengan suara yang bergetar oleh haru.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Haji Center (MHC) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, Musthofa tak ingin menyia-nyiakan detiknya di tempat mustajab tersebut.
Begitu turun dari bus di tengah suhu Madinah yang mulai menyentuh 40 derajat Celsius, ia segera membasuh diri dan melangkah mantap menuju saf-saf masjid. “Shalat dhuha dua rekaat dan shalat hajat dua rakaat, alhamdulillah bisa saya tunaikan,” ungkap ayah dari empat anak itu.
Rajah Doa di Balik Topi Bambu
Ada pemandangan unik yang melekat pada sosok Musthofa. Caping bambunya bukan sekadar perisai dari terik mentari Madinah yang menyengat.
Di permukaan topi tersebut, tergores rajah berupa tulisan Arab yang ia yakini sebagai pegangan batin. Tulisan itu berisi selawat dan potongan surat Al-Fatihah yang bermakna “Tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan para Nabi dan para Rasul.”
Caping itu menjadi saksi bisu perjuangan panjang seorang petani kecil yang gigih menjemput takdir. Demi bisa berangkat ke Tanah Suci, Musthofa telah menabung sejak tahun 2012. Uang recehan dari hasil keringatnya ia sisihkan dengan telaten. “Paling sedikit Rp10 ribu, paling banyak Rp100 ribu,” kenangnya.
Tak hanya tabungan harian, Musthofa juga merelakan harta simpanannya yang paling berharga. Ia menjual ternak sapinya untuk melunasi biaya haji yang terus merangkak naik.
Dari enam ekor sapi yang pernah ia miliki, kini hanya tersisa satu ekor di kandangnya. “Sapi itu juga tabungan saya dari bertani. Untuk melunasi biaya haji, saya jual Rp 24 juta,” ujarnya sambil menyeka wajah, seolah melepas beban belasan tahun yang kini telah lunas terbayar.
Doa untuk Sedulur di Tanah Air
Meski kini berada di pusat kemuliaan, Musthofa tak melupakan akar asalnya di Kecamatan Suruh. Di bawah naungan kubah Masjid Quba, ia tak meminta kemewahan dunia. Doanya sederhana, mencerminkan kesalehan sosial seorang petani yang ingin berbagi kebahagiaan dengan sesama.
“Semoga sedulur saya bisa segera berangkat ke Tanah Suci, naik haji, selamat dunia dan akhirat,” ucapnya lirih. Kalimat itu menjadi pamungkas percakapan sebelum ia kembali melangkah menuju bus kloternya.
Ia tidak tergoda oleh deretan lapak belanjaan di sekitar masjid; baginya, sujud di Quba sudah lebih dari cukup sebagai buah dari sabar dan syukur selama 13 tahun lamanya.
Kini, Musthofa bersiap mengikuti pergeseran jemaah menuju Makkah untuk melaksanakan umrah wajib. Dengan caping berajah doa yang tetap setia di kepala, petani bersahaja ini terus melangkah, membuktikan bahwa pintu Baitullah selalu terbuka bagi mereka yang mengetuknya dengan ketulusan dan kerja keras. [ian/MCH]






