Bagaikan judul lagu ‘Badai Pasti Berlalu’ yang dilantunkan Chrisye, ‘Badai Pasifik’ PSBS Kabupaten Biak Numfor, Papua pasti berlalu dari kompetisi level tertinggi sepak bola Indonesia.
Setelah sukses menahan imbang tuan rumah tanpa gol pada babak pertama, PSBS tak berdaya menghadapi serangan rancak Persebaya pada babak kedua, di Gelora Bung Tomo, Surabaya, Sabtu (2/5/2026) sore.
Tiga menit setelah penjaga gawang alumni Persebaya, Dimas Galih, digantikan Andika Wisnu karena cedera, Milos Raickovic mengubah papan skor pada menit 53 melalui tendangan roket dari luar kotak penalti.
Raickovic kembali mencetak gol pada menit 66, yang disempurnakan Francisco Rivera pada menit 75 dan 81. Kemenangan empat gol ini melanjutkan tren positif Persebaya.
Kini dalam tiga pertandingan terakhir, Persebaya sudah mencetak sepuluh gol tanpa kebobolan sama sekali. Ini kado bagi pelatih Bernardo Tavares yang merayakan usia ke-46 pada hari itu.
Boleh dibilang, pertandingan melawan PSBS adalah yang terbaik setelah kemenangan 4-0 atas Arema.pada pertandingan sebelumnya. Pressing dan aliran cepat bola dari kaki ke kaki membuat Nelson Alom dan kawan-kawan kelabakan.
Gol seharusnya sudah tercipta pada babak pertama. Namun kecekatan Dimas Galih membuat peluang demi peluang gagal dikonversi.
Apresiasi untuk PSBS Biak
Namun di luar penampilan bagus Persebaya, apresiasi layak ditujukan kepada PSBS. Di tengah gempuran Persebaya, anak-anak asuhan Kahudi Wahyu Widodo masih bisa melesakkan sembilam tembakan ke gawang Andhika Ramadhani, tiga di antaranya tepat sasaran.
Bahkan seharusnya tembakan kanon jarak jauh Raja Siregar menjadi gol jika tidak menghantam tiang gawang Persebaya. Ilhamudin Armaiyn, mantan ujung tombak tim Indonesia U19 yang memenangi Piala AFF pada 2013, beberapa kali mengajak adu lari para pemain bertahan Persebaya.
Tunggakan gaji selama tiga bulan seharusnya sudah cukup jadi alasan bagi para pemain PSBS untuk tampil tanpa semangat, atau bahkan menolak bertanding. Namun sore itu, para pemain PSBS menunjukkan bahwa badai krisis finansial tak seharusnya memganulir julukan ‘Badai Pasifik’ yang mereka sandang.
Krisis finansial sebagaimana yang dialami PSBS sebenarnya bukan hal baru di kasta tertinggi kompetisi sepak bola Indonesia. Medio Mei 2025, Persija Jakarta diberitakan pula menunggak gaji pemain. Namun Macan Kemayoran bukan satu-satunya klub yang menunggak gaji pemain saat itu.
Sebagaimana dilansir Tempo.co, 6 agustus 2025, Wakil Presiden Asosiasi Pesepak Bola Profesional (APPI) Achmad Jufriyanto mengatakan, ada empat klub BRI Super League atau Liga 1 yang masih menunggak gaji 15 pemain hingga Rp 4,3 miliar.
Sementara di Liga 2, tujuh klub memiliki tunggakan Rp 3,6 miliar. Sejumlah klub Liga 3 pun memiliki problem serupa dengan nominal Rp 2,5 miliar. Saat itu dua tim dalam korespondensi dengan APPI, empat tim dalam proses mediasi, dua tim belum menjalankan putusan NDRC (National Dispute Resolution Chamber), dan satu tim belum menjalankan putusan Dispute Resolution Chamber (DRC) FIFA.
Kompetisi Sepak Bola Indonesia Rapuh
Problem finansial yang dialami sejumlah klub ini menunjukkan rapuhnya kompetisi sepak bola di Indonesia. Manajemen klub sepak bola di Indonesia masih mengedepankan gengsi meraih prestasi dan gelar juara tanpa mempertimbangkan kekuatan pembiayaan. Patut diduga, peribahasa ‘besar pasak daripada tiang’ masih berlaku.
Ada empat sumber pemasukan klub Indonesia: sponsor, tiket penonton, penjualan cenderamata, pendapatan hak siar, dan donatur. Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tidak bisa lagi diandalkan sebagai sumber pembiayaan sejak keluarnya larangan Menteri Dalam Negeri sejak 2012.
Regulasi tersebut memaksa klub-klub sepak bola di Indonesia berusaha mati-matian untuk tetap hidup. Sebagian memilih mengibarkan bendera putih dan menyerahkan lisensi klub untuk dibeli pihak lain. Sebagian memilih mengakhiri petualangan mereka dalam sepak bola nasional.
Tidak semua klub sepak bola di Indonesia cukup punya reputasi untuk menarik sponsor. Ini bukan hanya soal nama besar klub. Klub legendaris seperti PSMS Medan pun mengalami kesulitan menarik sponsor besar untuk bisa bangkit kembali ke level tertinggi kompetisi sepak bola Indonesia.
Dalam bisnis, reputasi orang-orang manajemen dan petinggi klub juga ikut menentukan kepercayaan swasta untuk menanamkan modal. Pihak swasta tentu tidak ingin modal yang ditanamkan dikelola serampangan dan tidak bijak oleh manajemen klub.
Lokasi kandang klub sepak bola juga ikut menentukan. Klub-klub dari kota besar dengan perputaran bisnis dan ekonomi kuat seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya lebih mudah memperoleh sponsor dngan nominal besar, daripada klub-klub yang bermarkas di kota provinsial atau kota kecil seperti PSBS Biak.
Namun tidak semua klub kota provinsial susah memperoleh sponsor utama. Malut United di Ternate memperoleh sponsor dari perusahaan tambang nikel, PT Mineral Trobos, yang juga terafiliasi dengan pemilik klub.
Perusahaan ini sudah beroperasi di Pulau Gebe, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, sejak 2006. Membiayai klub sepak bola profesional di level tertinggi merupakan bagian dari strategi manajemen perusahaan.
Pengelola liga sebenarnya memberikan bagi hasil hak komersial siaran televisi. Setiap klub peserta Liga 1 2022/2023 menerima sekitar Rp 5,5 miliar atau dari Rp 550 juta per bulan. Namun tentu saja jumlah itu masih jauh dari kebutuhan.
Mengacu pernyataan pengamat sepakbola Mohamad Kusnaeni yang dilansir situs berita daring CNBC Indonesia, 21 September 2022, soal kebutuhan klub sepak bola Indonesia, nominal sebesar itu hanya setara dengan biaya semusim klub Liga 3 atau kasta ketiga.
Sementara jika mengacu taksiran yang dibuat situs Transfermarkt, salah satunya berdasarkan nilai pasar para pemain, total nilai pasar PSBS Biak saja bisa mencapai Rp 40,41 miliar. Sementara Persib Bandung yang saat ini di posisi wahid, memiliki harga pasar Rp 144,44 miliar.
Pembatasan oleh PT Liga Indonesia Baru (LIB) terhadap biaya belanja pemain klub Liga 1 Rp 50 miliar pada musim 2024-25 mengindikasikan besarnya jor-joran angka pembiayaan.
Sepi Penonton
Selain tak punya sponsor dan jatah hak komersial yang sedikit, klub-klub sepak bola profesional Indonesia juga susah menggantungkan harapan dari tiket penonton, apalagi penjualan cendera mata (merch).
Berdasarkan data Transfermarkt, jumlah rata-rata penonton sepak bola yang menembus belasan ribu orang setiap pertandingan hanya ditemui di Jakarta, Bandung, dan Surabaya.
Pada Musim 2024-25, 262.034 orang menyaksikan pertandingan kandang Persija Jakarta (rata-rata 18.717 penonton), 250.570 orang menghadiri laga kandang Persib Bandung (rata-rata 16.705), dan 250.386 menonton Persebaya Surabaya di Gelora Bung Tomo (rata-rata 14.729 orang).
Lima belas klub Liga 1 lainnya kesulitan menembus delapan ribu penonton setiap pertandingan. Laga kandang Persis Solo saja hanya disaksikan 128.347 orang atau rata-rata 7.550 penonton.
Paling sedikit adalah Dewa United FC yang hanya ditonton 4.059 orang selama satu musim, atau rata-rata 312 orang. Padahal Banten International Stadium yang menjadi kandang mereka memiliki kapasitas 30 ribu penonton.
Situasi ini membuat manajemen klub dalam posisi serba salah. Menaikkan harga tiket jelas bukan tindakan populer dan berisiko membuat penonton makin malas datang. Namun tanpa pemasukan yang layak, klub akan kesulitan membiayai operasional pertandingan seperti sewa stadion dan pengamanan. Lupakan dulu soal gaji pemain. Maka hanya menunggu waktu sebuah klub sepak bola memasuki sakaratul maut dan mengucapkan ‘selamat tinggal, sampai jumpa lain waktu’.
Terusir dari Kandang Sendiri
Bagi klub luar Jawa seperti PSBS Biak, situasi semakin sulit. Selama musim 2024-25 dan 2025-26, mereka belum merasakan pertandingan kandang dalam arti sesungguhnya, karena Stadion Cendrawasih di Biak dinilai belum memenuhi syarat regulasi liga. Maguwoharjo Stadium, Sleman, Jogjakarta, yang berjarak tiga ribu kilometer perjalanan udara dari Biak akhirnya dipilih menjadi rumah mereka.
Ini juga pernah dialami Malut United. Mereka sempat berkandang di Jakarta karena Stadion Kie Raha belum selesai direnovasi pada musim 2024-25.
Bermain jauh dari Biak, membuat PSBS bermain tanpa suporter. Tak banyak warga Papua di Jawa yang bisa diharapkan datang ke stadion. Musim 2025-26, Transfermarkt mencatat, rata-rata pertandingan PSBS hanya disaksikan 115 orang.
PSBS jelas tak bisa hanya mengandalkan doa dari 152.174 jiwa warga Kabupaten Biak Numfor. Football without fans is nothing. PSBS merasakannya. Tanpa dukungan penonton, motivasi mereka kempis. Biaya operasional yang harus ditanggung pun membengkak.
PSBS memang bisa tampil impresif pada musim pertama mereka di Super League (2024-25) dengan menduduki peringkat 9. Namun pada musim 2025-26, mereka kehabisan napas.
Hingga pekan 31, PSBS mengalami 21 kekalahan dan hanya mencatatkan empat lemenangan. Salah satunya kemenangan telak 4-1 atas Bhayangkara Presisi FC yang saat ini berada di peringkat keenam klasemen.
Berada di peringkat buncit, PSBS sudah dipastikan mengunci tiket degradasi setelah kalah 0-4 dari Persebaya Surabaya.
Bagian dari Bisnis Sepak Bola
Sejumlah pemain PSBS langsung menggeletakkan diri di atas rumput Gelora Bung Tomo begitu wasit Muhammad Tri Santoso meniup peluit panjang. Tepuk tangan apresiasi dari 8.027 orang penonton di Gelora Bung Tomo tidak bisa menepikan kenyataan pahit.
Dan ini juga kenyataan pahit bagi sepak bola Indonesia. Sejak kompetisi unifikasi Liga Sepak Bola Utama (Galatama) dan Perserikatan digelar pertama kali pada 1994-95, persoalan finansial masih menghantui klub-klub di Indonesia.
Satu demi satu klub sepak bola hilang karena persoalan finansial. Petrokimia Putra. Bandung Raya. Mitra Surabaya. Warma Agung. Arseto Solo. Medan Jaya. Pelita Jaya. Semua pamit undur diri.
Sementara klub-klub tradisional eks perserikatan yang masih bertahan seperti PSMS Medan, Persiba Balikpapan, PSIS Semarang, berusaha keras untuk tetap relevan dan terlempar dari level teratas kompetisi nasional. Bahkan klub sekelas Persipura Jayapura pernah mengalami kesulitan finansial dan terdegradasi ke kasta kedua.
Tanpa sokongan finansial sponsor utama dan pendapatan dari tiket penonton maupun bisnis sampingan, klub sebenarnya masih bisa berharap dari sosok donatur. Klub-klub sepak bola Galatama selama bertahin-tahun menggantungkan hidup dari suntikan duit donatur pemilik, seperti Sjarnubi Said (Kramayudha Tiga Berlian), Alexander Wenas (Niac Mitra), maupun Nirwan Bakrie (Pelita Jaya).
Mereka ‘membakar uang’ dalam sepak bola Indonesia tanpa memperhatikan keuntungan. Saat ini, orang seperti Raffi Ahmad, bos RANS Cilegon FC, termasuk dalam generasi baru donatur sepak bola itu.
“Banyak yg bilang, ‘Raf, lu masuk ke bola itu hutan belantara, lu bakar duit.’ Aku jawab, ya memang, tapi kan kita harus pintar,” kata Raffi Ahmad, sebagaimana dilansir situs berita CNBC Indonesia, 12 Januari 2022.
Masalahnya, mengelola sepak bola Indonesia, tak hanya cukup butuh kepintaran, tapi juga kegilaan. Dalam esainya di Harian Disway, 27 Januari, 2023, Dahlan Iskan menulis: ‘Jelas sekali: yang paling serius memikirkan sepak bola adalah pemilik klub. Bukan hanya serius tapi sudah gila yang tidak pura-pura. Harta, waktu, dan tenaga dicurahkan habis-habisan.’
Namun populasi orang-orang kaya yang ‘gila’ itu semakin sedikit. Dahlan Iskan, tokoh di balik kebangkitan Persebaya, akhirnya memilih pamit. “Saya ini, untuk tingkat sepakbola, tingkatnya sudah insyaf. Sudah terlalu lama ngurusi sepakbola,” katanya, dilansir Tribunnews, 6 Januari 2012.
Mungkin benar apa yang ditulis Stefan Syzmanski dan Simon Kuper dalam Soccernomics. Mereka menyebut sepak bola bisnis yang buruk.
‘Soccer is not merely a small business. It has also historically been a bad one. Until very recently, and to some degree still today…’
Menurut Kuper dan Szymanski, siapa pun yang menghabiskan waktu di dunia sepak bola akan segera menyadari bahwa ‘stupidity was part of the soccer business’. [wir/aje]






