Makkah (beritajatim.com) – Muhammad Surdi, seorang pengemudi Bus Shalawat asal Lebak, Banten, mendedikasikan waktunya selama 24 jam penuh untuk mengantar jemaah haji Indonesia dari Al-Hidayah Tower, Aziziyah, menuju Masjidil Haram pada musim Haji 2026.
Pria berusia 45 tahun yang memiliki latar belakang sebagai montir bengkel ini menjadi sosok krusial dalam mobilitas jemaah di tengah padatnya arus lalu lintas Kota Makkah.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Haji Center (MHC) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, sosok Kang Surdi—begitu ia akrab disapa—dikenal sangat ramah oleh para jemaah.
Dengan tubuh tegap dan senyum hangat, ia sigap menyapa setiap tamu Allah yang menaiki busnya di depan Al-Hidayah Tower, yang merupakan kompleks pemondokan bagi sekitar 21 ribu jemaah Indonesia.
“Sehat, Pak?” sapa Surdi kepada tim Media Center Haji (MCH) saat ditemui di Aziziyah, Makkah, Sabtu (2/5/2026).
Dari Bengkel Motor ke Tanah Suci
Perjalanan hidup Muhammad Surdi menuju kursi kemudi Bus Shalawat penuh dengan liku-liku. Menjadi mukimin di Arab Saudi sejak 2011, ia sempat terpaksa pulang ke Malingping, Banten, saat pandemi Covid-19 melumpuhkan sektor transportasi dunia pada 2020. Di kampung halamannya, ia mencoba bertahan hidup dengan membuka bengkel motor selama dua tahun.
Sayangnya, keterbatasan modal membuat usahanya tidak berkembang sesuai harapan. Tekad untuk mencari penghidupan yang lebih layak akhirnya membawa pria asli Lebaksiuh ini kembali melamar ke perusahaan layanan transportasi (syarikah) di Arab Saudi. Keahlian mekanik yang dimilikinya memberikan ketangguhan fisik dan mental dalam menghadapi ritme kerja yang padat sebagai sopir bus.
“Saya di rumah buka bengkel, itu juga baru dua tahun. Tadinya 2015 pernah di Saudi. Nah, tahun 2020 pulang karena Corona. Di rumah tiga tahun merintis usaha, terus modalnya kecil, akhirnya ke Saudi lagi,” tuturnya.
Keberkahan Melayani Tamu Allah
Bagi Surdi, bekerja sebagai pengemudi Bus Shalawat bukan sekadar rutinitas mencari nafkah. Selama 15 tahun menjadi mukimin, ia merasakan keberkahan yang luar biasa karena bisa melayani jemaah sekaligus menunaikan ibadah haji secara resmi sebanyak empat kali. Kini, ia sudah fasih berinteraksi menggunakan Bahasa Arab, meskipun di awal masa kerjanya sempat terkendala komunikasi.
Tantangan terbesar yang dihadapinya saat ini adalah suhu ekstrem di Makkah yang mencapai 39 derajat Celcius. Meskipun sudah terbiasa dengan iklim gurun, Surdi mengaku sesekali masih terdampak cuaca panas hingga mengalami batuk-batuk. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk tetap bersiaga 24 jam bagi para jemaah.
“Ya Alhamdulillah lah, Kang,” katanya singkat penuh syukur saat ditanya mengenai ritme kerjanya.
Kehadiran sosok seperti Kang Surdi di lini transportasi haji menjadi bukti nyata dedikasi pekerja migran Indonesia dalam menyukseskan visi “Haji Ramah Lansia” tahun ini.
Dengan sapaan khas Nusantara dan pemahaman mendalam akan medan Makkah, para pengemudi bus seperti dirinya memastikan jemaah haji Indonesia, termasuk jemaah lansia dan perempuan yang mencapai 56 persen dari total populasi jemaah, dapat beribadah dengan rasa aman dan nyaman. [ian/MCH/but]






