Ringkasan Berita:
- Integrasi layanan karantina dinilai mampu menekan biaya logistik di Indonesia.
- Model berbasis kawasan dorong efisiensi rantai pasok dan distribusi barang.
- Dirut JGU Mirza Muttaqien raih PWI Jatim Award 2026 atas inisiatif tersebut.
- Kolaborasi lintas sektor dinilai kunci memperkuat sistem logistik nasional.
Surabaya (beritajatim.com) – Integrasi layanan karantina dinilai menjadi solusi strategis untuk menekan biaya logistik di Indonesia yang selama ini masih tergolong tinggi dibanding negara lain di Asia Tenggara. Pendekatan ini dianggap mampu memperbaiki efisiensi rantai pasok sekaligus mempercepat arus distribusi barang lintas wilayah.
Sejumlah kajian nasional dan regional menunjukkan bahwa biaya logistik di Indonesia masih menjadi tantangan utama dalam sistem distribusi. Kondisi ini kerap dikeluhkan pelaku usaha karena berdampak pada panjangnya rantai distribusi dan tingginya biaya pergerakan barang.
Dalam konteks tersebut, pendekatan berbasis kawasan yang mengintegrasikan layanan karantina, logistik, dan perdagangan dinilai mampu menciptakan sistem distribusi yang lebih efisien dan terkoordinasi. Integrasi ini juga mendorong perbaikan sistem rantai pasok nasional agar lebih berdaya saing.
Direktur Utama PT Jatim Grha Utama, Mirza Muttaqien, menerima PWI Jatim Award 2026 dalam peringatan Hari Pers Nasional tingkat Jawa Timur atas kontribusinya dalam mendorong integrasi layanan karantina.
Penghargaan tersebut diserahkan oleh Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Jawa Timur, Lutfil Hakim, pada 16 April 2026 di Dyandra Convention Center.
Lutfil Hakim menilai integrasi karantina sebagai solusi atas persoalan klasik dalam sistem distribusi nasional.
“Inisiatif ini tidak hanya memperkuat konektivitas antar sektor, tetapi juga menghadirkan efisiensi dalam proses distribusi barang,” ujarnya.
Menurutnya, integrasi tersebut membuat proses distribusi menjadi lebih cepat, transparan, dan terkoordinasi.
“Kami menilai langkah ini telah menjawab tantangan klasik, yakni tingginya biaya distribusi dan panjangnya rantai pasok,” tambahnya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara BUMD dan Badan Karantina Indonesia dalam memperkuat sistem distribusi yang lebih efisien. Model ini dinilai berpotensi direplikasi di berbagai daerah untuk mendukung kegiatan ekspor, impor, serta perdagangan antar pulau.
Sementara itu, Mirza Muttaqien menyampaikan bahwa fokus utama dari inisiatif tersebut adalah membangun sistem yang lebih terintegrasi.
“Yang kami dorong adalah integrasi layanan dalam satu sistem yang lebih tertata agar efisiensi dapat tercapai dan distribusi barang menjadi lebih lancar,” ujarnya.
Ia menambahkan, langkah tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam mendukung visi daerah sebagai Gerbang Baru Nusantara.
Integrasi layanan karantina dinilai menjadi langkah penting dalam menekan biaya distribusi, meningkatkan efisiensi rantai pasok, serta memperkuat sistem logistik nasional di tengah meningkatnya kebutuhan akan distribusi yang cepat dan terintegrasi. [tok/beq]






