Blitar (beritajatim.com) – Udara pagi di Jalan Asahan, Kelurahan Pakunden, Kota Blitar, masih terasa dingin saat dua sosok renta tampak berjalan beriringan dengan langkah yang sengaja diayun perlahan. Mereka bukan sedang menuju sawah seperti biasanya, melainkan sedang melatih raga demi sebuah janji yang telah mereka ikat sejak 9 tahun silam.
Slamet Azali (86) dan sang adik, Damanhuri (83), adalah potret keteguhan hati. Setelah menanti hampir satu dekade, dua kakak beradik yang kesehariannya bergelut dengan lumpur sawah ini akhirnya mendapat kepastian: tanggal 16 Mei 2026, mereka akan terbang ke Tanah Suci.
Perjalanan menuju Baitullah bagi Slamet dan Damanhuri bukanlah hasil dari keberuntungan instan. Sebagai petani, setiap rupiah yang mereka setorkan untuk biaya haji adalah tetesan keringat dari panen ke panen. Sejak mendaftar pada 2017, keduanya dengan telaten menyisihkan hasil penjualan padi, sedikit demi sedikit, hingga celengan mereka mencukupi untuk melunasi biaya haji yang terus merangkak naik.
“Kalau diingat-ingat, jalannya memang panjang. Daftar 2017, lalu ada pandemi COVID-19, lalu sempat terbentur aturan usia. Tapi saya selalu bilang ke adik saya, kalau memang sudah rezeki dan panggilan-Nya, kaki kita pasti akan menginjak Makkah,” tutur Slamet dengan suara yang sedikit bergetar namun penuh keyakinan.
Kini, cangkul dan sabit diistirahatkan sejenak. Jika biasanya mereka menghabiskan waktu di pematang sawah, kini rutinitas berganti menjadi jalan kaki setiap pagi di sekitar kelurahan. Fisik harus dijaga, karena Slamet tercatat sebagai jemaah tertua dari total 160 calon jemaah haji asal Kota Blitar tahun ini.
“Saya tidak minta apa-apa lagi di usia segini. Hanya ingin melihat Ka’bah langsung, bersujud di sana bersama adik saya. Sawah bisa menunggu, tapi panggilan ini tidak boleh disia-siakan,” ungkap Slamet Azali menyiratkan rasa syukurnya.
Namun, di balik binar bahagia itu, ada ganjalan pilu di hati Damanhuri. Rencana indah yang ia susun sejak tahun 2017 adalah berangkat haji bertiga: bersama kakaknya dan istri tercinta. Takdir berkata lain, sang istri berpulang ke Rahmatullah tepat tiga bulan sebelum jadwal keberangkatan.
Kepergian sang belahan jiwa sempat menggoyahkan semangatnya. Namun, dukungan dari Slamet dan keluarga besarnya membuat Damanhuri memilih untuk tetap melangkah. Baginya, berangkat haji tahun ini bukan hanya menunaikan rukun Islam kelima, tapi juga membawa titipan doa dan kerinduan almarhumah istrinya ke depan Ka’bah.
“Istri saya sudah niat sekali. Seragamnya sudah siap, semua sudah siap. Meski sekarang dia tidak ada di samping saya secara fisik, saya yakin dia ikut tersenyum. Saya berangkat haji ini juga untuk mengikhlaskan beliau di tanah paling mulia,” ujar Damanhuri dengan mata berkaca-kaca.
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kota Blitar, Purnomo, mengonfirmasi bahwa kedua lansia ini dalam kondisi kesehatan yang cukup baik untuk ukuran usia mereka. Mereka tergabung dalam Kloter 106, rombongan yang dijadwalkan menjadi bagian dari puncak musim haji 2026.
“Pak Slamet adalah jemaah tertua kita. Semangat beliau dan adiknya ini luar biasa. Ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa haji itu memang soal panggilan hati dan kesabaran,” kata Purnomo.
Bagi warga Pakunden, keberangkatan dua petani senior ini bukan sekadar berita haji biasa. Ini adalah kisah tentang bagaimana harapan tidak pernah kedaluwarsa oleh usia, dan bagaimana persaudaraan bisa menjadi kekuatan untuk melintasi samudra demi menunaikan rukun agama.
Pada 16 Mei nanti, langkah senja Slamet dan Damanhuri tidak lagi akan menyusuri aspal Jalan Asahan, melainkan langkah-langkah tawaf di bawah naungan langit Makkah. Sebuah akhir manis dari penantian sembilan tahun yang penuh peluh dan doa. [owi/beq]






