Madinah (beritajatim.com) – Sebanyak 423 tenaga pendukung yang terdiri dari warga negara Indonesia yang bermukim di Arab Saudi (mukimin) serta mahasiswa resmi memperkuat layanan haji 2026 di Daerah Kerja Madinah dan Bandara. Mereka telah menyelesaikan bimbingan teknis intensif pada Minggu, 19 April 2026, untuk memastikan kesiapan penyambutan kloter pertama jemaah yang dijadwalkan mendarat pada 22 April mendatang.
Fokus utama petugas mencakup bantuan langsung di sektor-sektor strategis, layanan khusus lansia, hingga koordinasi teknis Makkah Route demi memberikan pengalaman ibadah yang nyaman dan profesional bagi tamu Allah di Tanah Suci.
Sebanyak 423 tenaga pendukung Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026 resmi memulai tugas pelayanan di Daerah Kerja (Daker) Madinah dan Bandara guna menyambut kloter pertama jemaah haji Indonesia pada 22 April mendatang.
Tim yang terdiri dari para mukimin dan mahasiswa ini dipersiapkan sebagai garda terdepan dalam memfasilitasi kebutuhan jemaah, mulai dari proses kedatangan hingga pendampingan intensif bagi lansia selama berada di Tanah Suci.
Kesiapan para petugas ini dimatangkan melalui bimbingan teknis (bimtek) yang digelar pada Minggu (19/4/2026) di Madinah.
Dalam pembekalan tersebut, tenaga pendukung dilatih untuk menguasai berbagai aspek layanan teknis, termasuk prosedur penyambutan di bandara, koordinasi dengan otoritas lokal Arab Saudi, serta implementasi layanan Makkah Route untuk mempercepat proses keimigrasian jemaah.
Kepala Kanselerai, Soeharyo Tri Sasongko, menekankan bahwa kehadiran tenaga pendukung merupakan elemen vital yang menentukan keberhasilan kinerja PPIH secara menyeluruh.
Hal ini dikarenakan posisi mereka yang bersentuhan langsung dengan dinamika jemaah di lapangan.
“Tenaga pendukung ini menjadi ujung tombak di lapangan. Mereka langsung bersentuhan dengan jemaah, sehingga dituntut sigap, ramah, dan profesional dalam memberikan pelayanan,” jelas Soeharyo saat memberikan pengarahan.
Ujung Tombak Pelayanan di Lapangan
Distribusi 423 personel ini telah dipetakan secara strategis ke dua wilayah utama, yakni Daker Bandara dan Daker Madinah.
Penempatan difokuskan pada titik-titik krusial yang membutuhkan bantuan fisik dan komunikasi langsung, seperti terminal kedatangan, sektor-sektor pemondokan, hingga layanan khusus bagi jemaah risiko tinggi dan disabilitas.
Selain penguasaan medan, para tenaga pendukung juga dibekali pemahaman mendalam terkait prosedur layanan terbaru yang terintegrasi.
Hal ini bertujuan agar seluruh alur pelayanan, mulai dari penempatan jemaah hingga distribusi katering, dapat berjalan efektif sesuai dengan standar profesionalisme yang ditetapkan Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj).
Langkah ini sejalan dengan arahan Menteri Haji dan Umrah, Gus Irfan, yang meminta seluruh elemen petugas untuk meningkatkan sinergi dan kreativitas.
Dengan keunggulan penguasaan bahasa dan budaya lokal, para mukimin dan mahasiswa diharapkan mampu memberikan solusi cepat terhadap kendala yang mungkin dihadapi jemaah asal berbagai daerah, termasuk jemaah dari kabupaten/kota di Jawa Timur.
Melalui persiapan yang telah mencapai tahap final ini, PPIH Arab Saudi menyatakan optimisme tinggi untuk menyukseskan operasional haji 2026.
“Fokus utama saat ini tertuju pada Rabu, 22 April, di mana jemaah kloter pertama akan mulai mendarat di Madinah dan langsung mendapatkan pengawalan dari tim tenaga pendukung yang telah bersiaga penuh,” tutup Soeharyo. [ian/aje]






