Probolinggo (beritajatim.com) – Di balik program Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 7 Kota Probolinggo, tersimpan cerita tentang harapan, kegigihan, sekaligus tantangan dalam menjaga masa depan anak-anak dari keluarga rentan. Hal itu mengemuka saat kunjungan jurnalistik bersama Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Kamis (16/4/2026) siang.
Kepala Dinas Sosial Kota Probolinggo, Madihah, mengungkapkan bahwa proses penerimaan siswa di SRT bukanlah jalur biasa. Tidak ada pendaftaran terbuka, tidak ada antrean formulir. Semua bermula dari data keluarga yang dihimpun oleh Kementerian Sosial.
Dari data itulah, petugas turun langsung ke lapangan—mengetuk pintu rumah, memastikan satu per satu anak yang layak mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan. “Data dari Kemensos itu menjadi dasar kami. Setelah itu kami lakukan verifikasi dan validasi langsung di lapangan,” ujar Madihah.
Rencananya, penjangkauan calon siswa akan dimulai pada Mei 2026. Untuk tahun ajaran 2026–2027, SRT 7 membuka dua rombongan belajar dengan total 100 siswa—masing-masing 50 untuk jenjang SMP dan 50 untuk SMA.
Di beberapa keluarga, harapan itu datang lebih dari sekali. Ada rumah tangga yang memiliki dua anak sekaligus diterima di SRT, karena keduanya masuk dalam kriteria usia sekolah.
Namun, di balik angka-angka itu, tantangan sesungguhnya justru dimulai ketika anak-anak tersebut telah masuk ke dalam sistem pendidikan berasrama. “Yang paling berat itu menjaga mereka tetap bertahan,” ungkap Madihah dengan nada serius.
Bagi sebagian anak, SRT bukan sekadar sekolah. Ia adalah dunia baru—dengan aturan, kedisiplinan, dan lingkungan yang jauh berbeda dari kehidupan sebelumnya. Tidak sedikit yang merasa tertekan, rindu rumah, bahkan ingin kembali ke kehidupan lamanya.
“Ada yang sempat ingin keluar. Ini wajar, karena mereka sedang beradaptasi. Usia mereka juga masih labil, ada masalah remaja dan sebagainya,” katanya.
Dalam situasi seperti itu, peran pendamping menjadi krusial. Dinas Sosial, pihak sekolah, hingga pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) harus bekerja ekstra—mendekati, membujuk, dan memastikan anak-anak tidak menyerah di tengah jalan.
Hasilnya tak selalu mulus. Ada yang keluar, namun ada pula yang berhasil kembali. “Kalau ada tiga yang keluar, kita bisa tarik lagi dua untuk masuk. Bahkan ada yang sudah mau keluar, akhirnya bisa kita yakinkan untuk bertahan,” ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah juga berpacu dengan waktu dalam menyiapkan fasilitas yang layak. Saat ini, aktivitas belajar dan asrama masih memanfaatkan gedung yang ada. Satu kamar diisi empat anak—cukup, namun jauh dari kata ideal untuk jangka panjang.
Harapan besar kini tertuju pada pembangunan gedung baru SRT 7 yang direncanakan masuk tahap ketiga pada tahun anggaran 2026. Lahan seluas 5,2 hektare di Kelurahan Kedung Asem, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo telah disiapkan.
Pemkot Probolinggo pun tak tinggal diam. Mulai dari pengurukan lahan hingga pengurusan dokumen lingkungan seperti AMDAL, semua dibiayai melalui APBD sebagai bentuk komitmen mendukung program tersebut.
Sambil menunggu gedung baru berdiri, perbaikan fasilitas lama terus diupayakan, termasuk pengajuan bantuan ke Kemensos untuk pemeliharaan ruang belajar yang mulai terbatas.
Namun, bagi Madihah, bangunan fisik hanyalah satu bagian dari perjuangan. Yang jauh lebih penting adalah membangun rasa nyaman bagi anak-anak agar mereka merasa diterima dan memiliki masa depan.
“Kami berusaha menciptakan ekosistem yang membuat mereka betah. Karena kalau mereka sudah nyaman, mereka akan bertahan,” tuturnya.
Pada akhirnya, SRT bukan hanya soal pendidikan, tetapi tentang mengubah arah hidup. Memberi kesempatan kedua bagi anak-anak yang sebelumnya nyaris tak tersentuh sistem pendidikan formal.
Dengan ijazah yang sah dan diakui negara, pintu menuju perguruan tinggi pun terbuka. Sebuah peluang yang mungkin dulu terasa mustahil bagi mereka.
Di tengah segala keterbatasan, SRT 7 menjadi ruang harapan—tempat di mana anak-anak belajar bukan hanya tentang pelajaran sekolah, tetapi juga tentang bertahan, beradaptasi, dan bermimpi lebih tinggi. (ada/kun)






