Yogyakarta (beritajatim.com)– Derasnya arus informasi global mulai dari konflik di Timur Tengah hingga ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK)tidak hanya berdampak pada kondisi ekonomi, tetapi juga memengaruhi kesehatan mental masyarakat. Paparan berita negatif yang terus menerus kini menjadi salah satu pemicu meningkatnya kecemasan personal.
Fenomena ini diungkap oleh psikolog lulusan Universitas Gadjah Mada, Pamela Andari Priyudha. Ia menilai bahwa informasi global yang berulang dapat membentuk persepsi bahwa dunia sedang berada dalam kondisi yang tidak aman.
“Banyak individu mengalami kecemasan karena terus terpapar isu global. Secara tidak sadar, mereka mulai percaya bahwa situasi dunia semakin memburuk,” ujarnya.
Paparan Berita Negatif Picu Stres Antisipatif
Dalam praktiknya di platform kesehatan mental Ibunda.id, Pamela kerap menemukan kasus kecemasan yang dipicu oleh situasi eksternal. Informasi negatif yang datang tanpa henti dapat memicu respons emosional intens, bahkan memengaruhi kondisi fisik.
Salah satu bentuk respons tersebut adalah stres antisipatif (acute anticipatory stress)—kondisi ketika tubuh bereaksi seolah-olah ancaman nyata akan terjadi, meskipun belum tentu.
Gejalanya bisa beragam, mulai dari ketegangan, rasa cemas berlebihan, hingga reaksi fisik seperti mual dan serangan panik. Kondisi ini lebih rentan dialami oleh individu dengan pengalaman traumatis sebelumnya, karena tubuh cenderung meningkatkan kewaspadaan sebagai mekanisme perlindungan diri.
Jika tidak dikelola dengan baik, tekanan ini dapat berkembang menjadi stres berkepanjangan yang berujung pada gangguan kecemasan hingga depresi.
Kecemasan Kolektif Akibat Ketidakpastian Global
Ketidakpastian ekonomi, isu konflik, dan menurunnya daya beli turut memperkuat rasa tidak aman di masyarakat. Dalam situasi ini, banyak orang kesulitan membedakan antara ancaman nyata dan kekhawatiran yang hanya bersifat kemungkinan.
Akibatnya, muncul fenomena kecemasan kolektif—di mana rasa takut dan cemas menyebar secara luas di tengah masyarakat.
“Jika terus dibiarkan, kondisi ini dapat berkembang menjadi gangguan psikologis yang lebih serius,” jelas Pamela.
Dari Tekanan Menuju Pertumbuhan Diri
Di balik tekanan tersebut, terdapat peluang bagi individu untuk berkembang secara psikologis. Pamela menjelaskan konsep post-traumatic growth, yaitu kondisi ketika seseorang mampu bertumbuh setelah menghadapi pengalaman sulit.
Dalam proses ini, stres tidak selalu berdampak negatif. Dengan pengelolaan yang tepat, stres dapat berubah menjadi eustress, yaitu tekanan positif yang mendorong peningkatan kualitas hidup.
Namun, tidak semua individu dapat mencapai fase ini. Beberapa justru mengalami gangguan seperti Post-traumatic stress disorder. Dalam banyak kasus, pertumbuhan dan luka psikologis bahkan bisa muncul bersamaan.
“Post-traumatic growth bukan hanya tentang pulih, tetapi berkembang menjadi pribadi yang lebih kuat,” ujarnya.
Kisah Nyata: Dari Cemas PHK ke Perencanaan Karier
Pamela juga membagikan pengalaman menangani klien yang mengalami kecemasan akibat isu PHK massal. Ketika rekan kerja mulai kehilangan pekerjaan, klien tersebut mengalami tekanan hebat—mulai dari panik hingga kelelahan karena terus berusaha tampil sempurna.
Namun setelah mendapatkan pendampingan psikologis, ia mulai memahami dirinya lebih baik, menyusun ulang tujuan hidup, dan merancang langkah karier yang lebih sesuai.
Kasus ini menunjukkan bahwa tekanan dapat menjadi titik balik untuk perubahan positif, jika dikelola dengan tepat.
Faktor Penentu Ketahanan Mental
Kemampuan untuk bangkit dari tekanan dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:
Ketangguhan mental (resilience)
Sikap optimisme
Keterbukaan terhadap pengalaman
Kecerdasan emosional
Dukungan lingkungan dan informasi yang sehat
Menurut Pamela, cara seseorang memaknai pengalaman menjadi kunci utama dalam menentukan respons psikologisnya.
Pentingnya Mengelola Konsumsi Informasi
Di era digital, membatasi dan mengelola konsumsi informasi menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan mental. Tidak semua informasi perlu diserap secara berlebihan, terutama jika berdampak negatif pada emosi.
Pamela menekankan bahwa individu memang tidak bisa mengendalikan peristiwa global, tetapi memiliki kendali penuh atas respons yang diberikan.
“Kita tidak selalu bisa mengontrol apa yang terjadi di luar sana, tetapi kita bisa mengatur bagaimana cara kita meresponsnya,” tutupnya. [aje]






