Ponorogo (beritajatim.com) – Memasuki awal April 2026, Kabupaten Ponorogo langsung dihadapkan pada rentetan bencana alam. Dalam kurun waktu lima hari, sejak 1 hingga 5 April, tercatat puluhan kejadian yang mayoritas berupa tanah longsor. Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo, Masun, mengungkapkan bahwa intensitas bencana pada awal bulan ini tergolong tinggi.
“Sejak tanggal 1-5 April tercatat laporan masuk ada 26 kasus bencana alam,” kata Masun, Selasa (7/4/2026).
Dari jumlah tersebut, hampir seluruhnya merupakan tanah longsor. Hanya satu kejadian yang berbeda, yakni banjir yang terjadi di Desa Caluk, Kecamatan Slahung. Selebihnya, sebanyak 25 kasus didominasi longsor yang tersebar di sejumlah wilayah rawan.
Lonjakan kejadian paling signifikan terjadi pada 5 April. Dalam sehari, BPBD menerima laporan hingga 20 kasus. Kondisi ini menunjukkan tingginya potensi bencana dalam waktu singkat, seiring cuaca ekstrem yang melanda.
“Dalam 5 hari tersebut, terparah terjadi pada tanggal 5 April, ada laporan 20 kasus,” terang Masun.
Wilayah paling terdampak berada di Kecamatan Pulung. Di kawasan ini, tercatat 13 kejadian longsor. Desa Banaran menjadi titik paling rawan dengan 9 kejadian, disusul Desa Wagir Kidul sebanyak 3 kejadian dan Desa Bekiring 1 kejadian. Selain Pulung, longsor juga terjadi di Kecamatan Ngebel sebanyak 6 kejadian, Kecamatan Ngrayun 4 kejadian, serta Kecamatan Pudak 2 kejadian.
Masun menegaskan, tingginya angka bencana ini tidak lepas dari peringatan dini cuaca ekstrem yang sebelumnya telah dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Dalam periode 1 hingga 7 April, wilayah Ponorogo memang diprediksi mengalami hujan dengan intensitas tinggi.
“25 kasus longsor selama 5 hari ini, sejalan dengan rilis dari BMKG, bahwa ada peringatan dini dari rentang waktu tanggal 1-7 April ada cuaca ekstrem di wilayah Ponorogo,” jelasnya.
Dari seluruh kejadian, longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung menjadi yang paling parah. Dampaknya, akses jalan terputus dan menyebabkan tiga rumah warga terisolasi.
“Kejadian tanah longsor yang paling parah terjadi di Desa Banaran Kecamatan Pulung. Kurang lebih ada 3 rumah yang terisolir akibat jalan akses terputus,” ungkap mantan Kepala Dinas Pertanian Ponorogo tersebut.
Dia menambahkan, potensi longsor di Banaran sebenarnya sudah terdeteksi sejak lama. Retakan tanah di kawasan tersebut telah muncul sejak tahun 2021. Bahkan, hasil survei dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merekomendasikan relokasi bagi sejumlah warga.
“Longsor Banaran ini sudah, retakannya sudah ada sejak tahun 2021 lalu. Survei yang dilakukan oleh PVMBG beberapa tahun yang lalu, menyarankan kurang lebih 17 rumah pindah, karena berbahaya,” paparnya.
Rumah-rumah yang berada di zona rawan tersebut tersebar di bagian atas, tengah, hingga bawah mahkota longsor. BPBD Ponorogo pun telah mengirimkan imbauan resmi kepada pemerintah desa agar warga yang tinggal di area berisiko segera mengungsi. Dia juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan dengan durasi panjang.
“BPBD Ponorogo juga melakukan himbauan tertulis yang ditunjukan ke Pemdes, bahwasanya warga yang rumahnya masuk dalam mahkota longsor, bisa mengungsi atau pindah,” pungkasnya.
Lonjakan bencana di awal April ini menjadi alarm serius bagi Ponorogo, terutama di wilayah-wilayah dengan kontur perbukitan yang rentan longsor. Kewaspadaan dan langkah mitigasi menjadi kunci untuk menekan risiko yang lebih besar di tengah cuaca ekstrem yang masih berpotensi berlanjut. [end/aje]






