Surabaya (beritajatim.com) – Belum juga resmi mengudara di bioskop tanah air, film terbaru karya sutradara kondang Joko Anwar, Ghost in the Cell, sudah mencatatkan prestasi gemilang di kancah internasional. Film produksi Come and See Pictures ini dilaporkan telah terjual ke 86 negara di seluruh dunia, menyusul kesuksesannya saat tampil di ajang Berlinale 2026.
Distribusi global ini mencakup wilayah yang luas, mulai dari Asia Tenggara, Amerika Utara, hingga dataran Eropa. Bahkan sebelum penayangan perdananya di Berlin, distributor asal Jerman, Plaion Pictures—yang dikenal pernah memboyong film-film kelas dunia seperti Parasite dan Anatomy of a Fall—telah lebih dulu mengamankan hak siar untuk wilayah berbahasa Jerman.
Meskipun dikemas dalam genre komedi horor, Joko Anwar menegaskan bahwa inti dari film ini adalah potret realita tentang kekuasaan dan sistem yang korup. Ia menyebutkan bahwa isu yang diangkat ternyata beresonansi kuat dengan penonton global.
“Awalnya kita tidak berpikir penonton negara lain bisa relate… tapi ternyata ini juga cerita Amerika, Brasil, India, dan Prancis. Karena korupsi itu tidak punya kewarganegaraan dan ketidakadilan adalah bahasa universal,” ungkap Joko Anwar.
Produser Tia Hasibuan menambahkan bahwa minat besar dari berbagai negara ini menjadi bukti otentik bahwa kualitas produksi film Indonesia kini telah diakui secara luas di standar internasional.
Ghost in the Cell mengambil latar di Lapas Labuhan Angsana, tempat para narapidana harus berhadapan dengan penindasan pejabat lapas dan kekerasan antar-tahanan. Teror dimulai saat seorang napi baru masuk, diikuti dengan kematian tragis para penghuni lapas satu per satu.
Para napi kemudian menyadari bahwa mereka diburu oleh entitas gaib yang mengincar mereka dengan energi negatif. Di tengah penjara yang penuh ketidakadilan, mereka terpaksa melakukan hal yang mustahil: bersatu untuk melawan penindas, baik manusia maupun hantu, demi tetap bertahan hidup.
Film ini bertabur bintang papan atas seperti Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Lukman Sardi, Rio Dewanto, hingga Tora Sudiro. Penonton di Indonesia dapat menyaksikan perjuangan para napi ini mulai 16 April 2026 di bioskop-bioskop seluruh Indonesia.[rea]






