Situbondo (beritajatim.com) – Sebanyak kurang lebih 1,5 juta pemirsa (viewer) menyimak obrolan Yusuf Rio Wahyu Prayogo, Bupati Situbondo, Jawa Timur, dengan seorang perempuan pemandu lagu di kafe maupun rumah karaoke yang akrab disebut ladies companion (LC), dalam siaran langsung TikTok.
Siaran itu berlangsung di kanal TikTok masrio.bupatiku dan diunggah pada 17 Maret 2026. Hingga Sabtu (28/3/2026), video siaran tersebut dibagikan 10.500 kali, dikomentari 2.336 kali, dan disukai 49.800 pemirsa.
Dalam siaran langsung itu, seorang LC menanyakan kapan kafe Situbondo dibuka. Dia meminta kafe-kafe dibuka pada malam takbiran. Menurutnya, para pemandu lagu tidak mendapat pemasukan larena kafe-kafe itu ditutup selama Ramadan.
Penasarab, Rio pun menanyakan jumlah LC di Situbondo. Begitu diberitahu jumlahnya kurang lebih 50 orang, da terkejut. “Wah, banyak juga,” katanya dalam bahasa Madura.
Rio kemudian meminta semua LC itu dikumpulkan setelah lebaran untuk mendapatkan pelatihan agar bisa mencari nafkah dengan mata pencarian lain. “Nanti dilatih saya. tapi kalau memang suka kerja itu meskipun dilatih ya tetap saja. Maksud saya beneran berhenti, nanti saya carikan pekerjaan,” katanya.
Siaran langsung TikTok sudah biasa dilaksanakan Rio sejak masa kampanye pemilihan kepala daerah pada 2024. “Saya ingin membangun interaksi organik dengan masyarakat tanpa sekat dan di luar formalitas,” katanya kepada beritajatim.com, Sabtu (28/3/2026).
Siaran langsung TikTok ini memunculkan percakapan yang otentik antara Rio dengan warga dari berbagai level demografi sosial. “Semua diperkenankan masuk (untuk bercakap-cakap). Ada yang miskin, kaya, persoalannya ini, itu,” katanya.
Rio memilih berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Madura, yang merupakan bahsa mayoritas warga Situbondo. “Saya tidak pernah mengubah karakter. Rio sebelum dan sesudah jadi bupati, it;s me. Tidak ada gaya, style komunikasi yang berubah,” katanya.
“Ini bukan dibuat-buat, bukan pencitraan. Mulai dari saya jadi aktivis mahasiswa di Jember, teman saya tukang-tukang becak di depan kampus. Teman bermain layang-layang saya dari kelompok bawah. Jadi natural saja,” kata Rio.
Rio sudah menetapkan diri untuk tidak berubah. “Kadang-kadang malah saya sering lupa kalau saya bupati. Ingatnya ketika orang menghiormati saya luar biasa. Bagi saya itu akan melenakan,” katanya. [wir/beq]







