Surabaya (beritajatim.com)- Kata siapa anak muda jaman sekarang nggak bisa taat? Sering banget ada anggapan kalau Gen Z itu generasinya kelewat bebas, cuma mikirin healing, dan terlalu asyik dengan dunianya yang serba digital. Tapi kalau mau jujur dan melihat lebih dekat, sebenarnya mereka punya cara unik buat tetep “konek” sama Tuhan. Mereka nggak meninggalkan esensi agama, mereka cuma memperbarui cara aksesnya supaya tetap relevan dengan gaya hidup yang serba cepat, praktis, dan modern.
Bagi Gen Z, ketaatan itu bukan soal tampilan luar yang kaku, melainkan tentang habit digital yang positif. Di balik layar HP yang isinya aplikasi mabar, terselip aplikasi Al-Qur’an digital atau habit tracker untuk memantau progres ibadah harian. Bahkan, fenomena “QRIS-isasi” di masjid-masjid jadi bukti betapa “sat-set” cara mereka berbagi. Nggak perlu ribet cari uang receh, cukup scan kode QR dari dompet digital, dan sedekah pun selesai dalam hitungan detik tanpa harus kehilangan momen produktif.
Cara mereka syiar pun jauh dari kesan kaku atau naik mimbar. Gen Z lebih suka melakukan “Syiar Tipis-tipis” lewat desain grafis yang minimalis atau sekadar repost video edukasi yang bahasanya santai di Instagram Story. Gayanya pun nggak menggurui atau menghakimi orang lain; biasanya mereka cuma kasih narasi singkat seperti, “Reminder buat diri sendiri juga sih,” tapi justru hal-hal simpel dan jujur seperti inilah yang sering bikin teman-teman tongkrongannya jadi ikutan tergerak untuk berbuat baik secara organik.
Uniknya, Gen Z sering banget mengaitkan spiritualitas dengan kesehatan mental (mental health). Di saat dunia lagi berisik-berisiknya dan tuntutan hidup bikin burnout, momen ibadah atau tadarus sendirian sering dijadikan waktu buat deep talk yang paling privat dengan Sang Pencipta. Ibadah bukan lagi sekadar ritual menggugurkan kewajiban, tapi menjadi momen untuk menumpahkan semua unek-unek dan kegalauan soal masa depan. Ini adalah cara mereka untuk tetap tenang dan “waras” di tengah tekanan zaman yang serba kompetitif.
Selain itu, konsep “taat” mereka juga terlihat dari cara mereka membuat batasan atau boundaries di tengah pergaulan yang semakin terbuka. Meskipun tetap eksis di tongkrongan atau aktif di berbagai komunitas, banyak dari Gen Z yang tetap memegang teguh prinsip “Stay Halal”. Mereka nggak takut buat nolak hal-hal yang bertentangan dengan prinsip imannya, tapi menyampaikannya dengan cara yang santai tanpa bikin suasana jadi canggung. Bagi mereka, ketaatan adalah bentuk integritas diri yang bikin mereka justru makin dihargai di lingkungannya.
Pada akhirnya, menjadi bebas itu boleh-boleh saja, tapi taat adalah pondasi diri yang utama. Seberapa jauh pun kamu main, dan bergaul sama siapapun, Gen Z membuktikan bahwa kita tetap bisa jadi pribadi yang lebih baik dan solid dengan nilai-nilai yang kita pegang. Menjadi taat di era digital ternyata bisa dilakukan dengan cara yang sangat asyik tanpa harus kehilangan jati diri. [Devi Dwi Windah Sari]






