Malang (beritajatim.com) – Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran turut memengaruhi situasi keamanan di wilayah Timur Tengah, mengganggu jalur penerbangan internasional.
Akibatnya, sejumlah penerbangan internasional, termasuk untuk jamaah umrah asal Indonesia, harus dibatalkan atau ditunda. Salah satunya adalah penerbangan yang membawa jamaah umrah dari Indonesia, termasuk rombongan dari Kabupaten Malang yang kini tertahan di Makkah.
“Seharusnya hari ini saya sudah meninggalkan Makkah. Namun penerbangan harus dibatalkan. Ditunda sampai tanggal 6 Maret 2026,” ungkap KH Thoriq Bin Ziyad, seorang jamaah Umrah asal Kabupaten Malang, yang juga dikenal sebagai inisiator Hari Santri Nasional, Senin (2/3/2026).
Ia menginap di Al Orabi Hotel yang hanya berjarak 400 meter dari Masjidil Haram, bersama 14 rombongan dari Travel Haji dan Umrah Mujahidin.
Meskipun situasi di Makkah dan Madinah relatif aman, gangguan pada jalur penerbangan menjadi masalah besar. “Seharusnya saya pulang hari ini, tapi masih ter-cancel. Kemudian saya dengar tanggal 5 ada yang bisa terbang, kemungkinan bisa kembali pulang ke Indonesia tanggal 6 Maret 2026 dini hari,” lanjut Gus Thoriq ketika dihubungi lewat ponselnya.
Tertundanya jadwal kepulangan jamaah umrah ini berdampak pada akomodasi mereka. Banyak jamaah yang terpaksa harus mencari tempat istirahat baru, mengingat masa inap di hotel sudah habis. “Setelah ini saya harus cek-out dari hotel, dan ditempatkan oleh travel ke sebuah apartemen di kawasan Aziziyah sambil menunggu dibukanya jalur penerbangan,” tuturnya.
Sementara itu, Ahmad Sahril, Komisaris Travel Haji dan Umroh Mujahidin Malang, yang juga ikut tertahan di Mekkah bersama 14 jamaah, menjelaskan bahwa kemarin seluruh penerbangan, termasuk yang transit di Singapura dan Surabaya, telah dibatalkan.

“Posisi kami saat ini masih berada di Mekkah. Setelah ini, seluruh jamaah kita bawa ke apartemen Aziziyah sambil menunggu perkembangan jadwal penerbangan,” katanya.
Namun, masalah yang dihadapi tidak hanya soal penundaan penerbangan. “Penerbangan dari Jeddah dibatalkan, kalau kemarin disuruh nunggu sampai tanggal 9 Maret 2026, kami nggak mau refund, karena maskapai mengatakan ini adalah masalah global, jadi mereka tidak bertanggung jawab,” ujar Sahril.
Ia menambahkan bahwa harga makanan dan penginapan di Mekkah selama Ramadan mengalami kenaikan yang cukup signifikan—hingga tiga kali lipat.
Untuk mengatasi biaya yang terus membengkak, Sahril dan para jamaah lainnya melakukan patungan untuk menutupi biaya selama menunggu jadwal penerbangan. “Harapan kami secepatnya bisa pulang, banyak keluarga kami khawatir, mereka menunggu kepulangan kami. Meski di sini kami aman-aman saja,” pungkasnya.
Meski terjebak di tengah ketidakpastian, baik Gus Thoriq maupun Sahril tetap optimis dan berharap situasi di Timur Tengah segera mereda, agar mereka dapat kembali ke tanah air dengan selamat. [yog/suf]






