Persebaya menunjukkan gaya permainan yang jauh berbeda saat mengalahkan PSM 1-0. Memang hanya sebiji gol kemenangan yang dicetak Gali Freitas pada menit 27, di hadapan 7.527 penonton yang hadir di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Rabu (25/2/2026) malam. Namun ada peningkatan performa dibandingkan saat disapu Persijap 1-3 dalam pertandingan sebelumnya.
PSM memang menguasai pertandingan dengan 59 persen dan memiliki akurasi operan hingga 86 persen. Namun Persebaya bermain lebih rapat dibandingkan saat melawan Persijap.
Akurasi operan antarpemain Persebaya meningkat dari 69 persen menjadi 77 persen: sesuatu yang membuat permainan Persebaya lebih eksplosif sehingga bisa membombardir gawang PSM dengan 20 kali tembakan.
“Kami menciptakan banyak peluang dengan bola di tanah,” kata pelatih Persebaya Bernardo Tavares, dikutip dari Emosijiwaku.com.
Jumlah tembakan ke arah gawang dalam pertandingan malam itu, jika mengacu statistik yang dilansir situs resmi Pesebaya, adalah yang tertinggi dalam sebelas pertandingan terakhir musim ini.
Terakhir Persebaya memproduksi jumlah tembakan terbanyak ke gawang lawan saat bermain imbang 2-2 dengan Borneo: 16 kali. Saat itu Persebaya masih ditangani pelatih ad interim Sang-gyu Shin.
Meningkatnya jumlah tembakan ini tentu merupakan kabar baik. Setidaknya para pemain Persebaya sudah menemukan jalan untuk membongkar pertahanan lawan. Apalagi sejumlah tembakan dilakukan di dalam kotak penalti PSM, yang berarti mereka sudah berani mendekati gawang lawan sebelum melakukan eksekusi jarak dekat.
Tak ada yang salah dengan tembakan jarak jauh. Gol tunggal Persebaya malam itu juga hasil tembakan dari luar kotak penalti. Tembakan jarak jauh memiliki element of surprise yang sering kali membuat penjaga gawang cemerlang sekalipun tak berdaya, sebagaimana dilakukan Gali Freitas terhadap penjaga gawang PSM Reza Arya.
Reza berhasil melakukan sekian penyelamatan fantastis saat menghadapi tembakan jarak dekat pemain Persebaya. Hanya Freitas yang membuatnya tidak berdaya dengan sebuah tembakan kanon jarak jauh.
Namun kejutan dinamakan kejutan hanya jika dilakukan sesekali dengan syarat dan ketentuan berlaku. Salah satunya adalah saat pemain lawan menumpuk di lotak penalti dan melakukan low block.
Kedua, tidak semua pemain memiliki kemampuan melakukan tembakan jarak jauh dengan akurasi bagus. Tembakan jarak jauh juga memerlukan energi ekstra sehingga melakukannya berkali-kali akan menguras stamina eksekutornya.
Namun bukan itu isunya. Persoalan ada pada besarnya ikhtiar menembakkan bola ke gawang lawan yang tidak diikuti dengan akurasi. Sama seperti akurasi operan Persebaya yang rata-rata rendah, tidak sampai 75 persen, akurasi tembakan ke gawang lawan juga tak terlampau memuaskan.
Tembakan tepat sasaran terbanyak dalam sebelas pertandingan terakhir adalah saat melawan Borneo FC (8 tembakan) dan PSM (6 tembakan). Kedua pertandingan digelar di Gelora Bung Tomo.
Dalam sebelas pertandingan terakhir, Persebaya melakukan 142 kali tembakan ke gawang lawan atau rata-rata 12,9 tembakan per pertandingan. Sebanyak 49 tembakan di antaranya tepat sasaran atau 4,45 tembakan per pertandingan.
Dalam sebelas pertandingan, hanya 34,5 persen tembakan yang tepat sasaran. Dan dari semua tembakan tepat sasaran itu, tercipta 20 gol atau 40,81 persen. Belum separuhnya memang. Namun data ini menunjukkan bahwa masih ada ruang perbaikan bagi Persebaya, untuk meningkatkan akurasi tembakan ke gawang dan lebih banyak mengonversi tembakan tepat sasaran menjadi gol.
Bernardo Tavares mengatakan, permainan bola datar dari kaki ke kaki yang memungkinkan pemain berani menyusup ke kotak penalti PSM untuk menciptakan banyak peluang, tak lepas dari kualitas lapangan di Gelora Bung Tomo.
Jika demikian adanya, maka tak ada alasan bagi Persebaya untuk bermain buruk di kandang sendiri. Hasil akhir pertandingan memang seringkali tak berpihak. Namun kita tahu hasil akhir temporer saja. Hanya kualitas dan karakter permainan yang seharusnya permanen.
Dan dalam hal kualitas permainan, sudah seharusnya para pemain Persebaya berhenti ‘membidik burung di angkasa’. Peluang emas Bruno Moreira dan Riyan Ardiansyah yang berakhir dengan bola melesat ke langit tidak bisa dimaafkan dalam sebuah pertandingan yang berjalan ketat. Kegagalan memanfaatkan peluang bisa berujung penyesalan saat pemain lawan menghukum balik.
Dalam sepak bola, seringkali jalannya pertandingan ditentukan oleh sederetan detail. Termasuk detail berupa kesempatan yang terbuang. [wir]






