Bondowoso (beritajatim.com) – Sekretaris Daerah (Sekda) Bondowoso, Fathur Rozi, menegaskan pentingnya kesiapsiagaan terpadu dalam menghadapi risiko bencana hidrometeorologi. Hal itu disampaikan usai rapat koordinasi (rakor) kesiapsiagaan di Shaba Bina, Jumat (20/2/2026).
Menurutnya, penanganan bencana harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari tahap pra-bencana, saat bencana, hingga pasca-bencana.
“Kita harus memiliki kesadaran bersama. Penanganan tidak hanya saat kejadian, tetapi juga sebelum dan setelahnya. Mulai edukasi, asesmen awal, penanganan cepat, hingga rekonstruksi dan rehabilitasi,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan, termasuk perangkat daerah, camat, Palang Merah Indonesia, Perusahaan Listrik Negara, Bank Jatim, serta unsur lainnya untuk memperkuat koordinasi dan kesiapsiagaan.
Langkah konkret yang ditekankan antara lain pembersihan drainase dan sungai guna meminimalkan risiko banjir akibat sumbatan sampah.
Selain itu, Pemkab mendorong pemanfaatan sistem digital berbasis peta yang diinisiasi Dinas Kominfo dan terintegrasi dengan Public Service Center di Dinas Kesehatan.
Sistem ini memungkinkan informasi kebencanaan tersampaikan secara cepat dan simultan kepada perangkat daerah teknis.
“Ketika ada potensi bencana, perangkat daerah harus segera melakukan asesmen awal dan gerak cepat dalam penanganan,” katanya.
Sekda juga meminta PLN memastikan pasokan listrik tetap terjaga saat kondisi darurat, serta memastikan jaringan komunikasi tetap berfungsi.
Terkait wilayah perbatasan, ia menekankan pentingnya koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam pengelolaan sistem peringatan dini, terutama terkait kenaikan debit sungai. “Masyarakat harus mendapatkan informasi secara cepat jika ada potensi banjir. Warning system harus berjalan efektif,” tegasnya.
Ia berharap kesiapsiagaan yang terintegrasi mampu meminimalkan dampak bencana serta memperkuat respons cepat pemerintah daerah. (awi/kun)






