Tuban (beritajatim.com) – Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Tuban bersama Tim Badan Hisab Rukyat (BHR) melaksanakan rukyatul hilal untuk menentukan awal Ramadan 1447 Hijriah atau tahun 2026 di Menara Rukyatul Hilal Desa Banyuurip, Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban, Selasa (17/2/2026).
Pengamatan yang dimulai pukul 17.58 WIB tersebut menunjukkan hilal tidak terlihat, baik menggunakan alat optik maupun mata telanjang, karena posisinya masih berada di bawah ufuk.
Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Tuban, Umi Kulsum, mengatakan kegiatan rukyatul hilal dilaksanakan berdasarkan Surat Edaran Menteri Agama sebagai bagian dari upaya memastikan awal bulan Ramadan, meskipun keputusan akhir tetap menunggu pemerintah pusat.
“Sudah menjadi tugas Kemenag untuk melaksanakan rukyatul hilal, masalah terlihat atau tidak,” ujar Umi Kulsum.

Ia juga menanggapi potensi perbedaan dalam penetapan awal Ramadan. Menurutnya, perbedaan merupakan hal yang wajar dan masyarakat diharapkan saling menghormati.
“Kita harus terlatih untuk saling menghormati perbedaan tersebut,” ucapnya.
Sementara itu, Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tuban, Taufikurahman, menyampaikan tahun ini terdapat potensi perbedaan dalam penetapan awal puasa Ramadan. Karena itu, masyarakat diminta menyikapinya dengan bijak.
“Kami mengajak semua masyarakat untuk memperbanyak doa dan tahajud di malam hari supaya bangsa dan negara selalu dalam lindungan Allah SWT,” katanya.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk menjauhi perdebatan terkait perbedaan khilafiyah, serta menghormati dan mematuhi keputusan pemerintah terkait penetapan 1 Ramadan.
“Harapannya masyarakat supaya terus meningkatkan solidaritas sosial,” tambahnya.
Di lokasi yang sama, anggota Tim BHR Kabupaten Tuban, Nurpuat, menjelaskan berdasarkan hasil rukyatul hilal, posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia masih berada di bawah ufuk.
“Ada 30 metode yang dipakai Tim BHR, dan hasilnya di seluruh wilayah Indonesia tetap sama, yaitu hilal masih di bawah ufuk,” pungkasnya. [dya/but]






