Blitar (beritajatim.com) – Anomali cuaca yang mengguncang wilayah Kota Blitar membawa kabar buruk bagi sektor pertanian dan dapur warga. Sebanyak 6 hektare lahan cabai atau setara dengan 66 persen dari total luasan tanam yang ada di Bumi Bung Karno kini dilaporkan kritis akibat serangan masif jamur dan bakteri.
Situasi ini menjadi alarm bahaya bagi stabilitas pasokan pangan lokal. Jika tidak segera ditangani, Kota Blitar berpotensi menghadapi lonjakan harga cabai dalam beberapa pekan ke depan akibat supply shock.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Blitar (DKPP) Kota Blitar, Dewi Masitoh, mengonfirmasi data pertanian cabai tersebut. Dari total 9 hektare lahan produktif cabai di wilayah kota, hanya tersisa sepertiga yang masih relatif aman. Sisanya kini berjuang melawan pembusukan. “Dari sekitar sembilan hektare lahan cabai yang ada, enam hektare di antaranya sudah terserang hama jamur dan bakteri,” ungkap Dewi.
Menurut Dewi, musuh utama kali ini adalah curah hujan tinggi yang tak menentu. Kondisi tanah yang terlalu lembap atau tergenang air (waterlogging) menciptakan ekosistem sempurna bagi patogen untuk berkembang biak, sementara tanaman cabai justru rentan mati dalam kondisi basah.
Gejala kerusakan di lapangan sudah terlihat jelas: daun menguning, tanaman layu mendadak, hingga buah cabai yang membusuk di batang sebelum masa panen tiba.
“Tanaman cabai ini tidak suka air berlebih. Curah hujan yang tinggi membuat kelembapan meningkat, sehingga mudah terserang penyakit,” jelasnya.
Menghadapi situasi genting ini, DKPP Kota Blitar mengimbau petani untuk melakukan perawatan ekstra intensif, termasuk penggunaan fungisida sesuai anjuran. Namun, langkah ini dinilai sebagai respons reaktif semata.
Secara kritis, kejadian ini membuka mata bahwa pertanian perkotaan (urban farming) di Blitar masih sangat rentan terhadap perubahan iklim. Belum adanya teknologi drainase yang mumpuni atau penggunaan varietas bibit yang tahan cuaca ekstrem membuat petani selalu berada di pihak yang merugi setiap kali langit mendung.
Dewi pun tak menampik potensi dampak ekonomi dari kerusakan ini. “Kalau produksi terus menurun, tentu bisa berdampak pada pasokan dan harga cabai di pasaran,” pungkasnya.
Kini, warga Blitar harus bersiap. Jika penyelamatan sisa lahan gagal, rasa pedas di meja makan mungkin akan menjadi barang mewah dalam waktu dekat. (owi/kun)






