Surabaya (beritajatim.com) – Mahasiswa Magister Keperawatan Universitas Airlangga (Unair) melatih siswa SMKN 5 Surabaya tentang Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan Resusitasi Jantung Paru (RJP). Kegiatan ini menyasar peningkatan kemampuan pertolongan pertama pada kondisi henti jantung.
Edukasi tersebut dilaksanakan oleh mahasiswa Magister Keperawatan peminatan Keperawatan Medikal Bedah angkatan 19 Fakultas Keperawatan Unair. Sebanyak 40 siswa mengikuti sesi penyuluhan yang memadukan teori dan praktik.
Materi difokuskan pada langkah awal penanganan korban henti jantung sebelum bantuan medis datang. Peserta dibekali pemahaman tentang prosedur BHD, termasuk teknik kompresi dada dan tahapan tindakan cepat dalam kondisi darurat.
Untuk mengukur dampak kegiatan, peserta menjalani pre-test dan post-test. Nilai rata-rata pre-test tercatat 81,39 dari 100 poin, lalu meningkat menjadi 88,16 pada post-test setelah sesi edukasi selesai.
Mahasiswa S2 Keperawatan Unair, Agun Arya Wijaya, menyebut hasil tersebut menunjukkan adanya penguatan pemahaman siswa.
“Data ini menegaskan bahwa edukasi yang diberikan efektif dalam memperkuat pemahaman siswa terkait Bantuan Hidup Dasar dan teknik Resusitasi Jantung Paru,” ujarnya, Sabtu (14/2/2026).
Proses pembelajaran dilakukan melalui pemaparan materi, pemutaran video edukatif, serta demonstrasi langsung. Mahasiswa membagi peserta menjadi empat kelompok agar pendampingan praktik berjalan lebih terarah.
Sesi berlangsung lebih interaktif saat siswa diberi kesempatan mempraktikkan kompresi dada dan langkah-langkah BHD secara mandiri. Fasilitator mendampingi setiap kelompok untuk memastikan teknik yang dilakukan sesuai prosedur.
Diskusi dan tanya jawab juga diberikan sebagai penguatan materi. Pola ini membuat siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga lebih percaya diri saat melakukan praktik penanganan awal dalam situasi darurat.
Agun berharap pelatihan ini dapat menjadi bekal keterampilan penyelamatan nyawa bagi siswa. Menurutnya, edukasi BHD di lingkungan sekolah penting agar respons awal dalam kondisi kritis bisa dilakukan lebih cepat.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang dijalankan mahasiswa keperawatan. Program ini juga menjadi implementasi Tri Dharma perguruan tinggi melalui edukasi kesehatan yang aplikatif dan berdampak langsung di sekolah. [ipl/ian]






