Malang (beritajatim.com) – Sebanyak 11 pelajar Madrasah Al-Maarif 9 di Desa Randuagung, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, dilaporkan mengalami gejala mual, muntah, hingga pusing yang diduga akibat keracunan makanan pada Jumat (13/2/2026). Insiden ini terjadi pasca para siswa mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disediakan oleh pihak SPPG Randuagung untuk sarapan pagi.
Peristiwa bermula saat pihak sekolah meminta pengiriman makanan dilakukan lebih awal pada pukul 06.45 WIB. Namun, paket makanan tersebut baru dibagikan dan dikonsumsi oleh para siswa sekitar pukul 08.45 WIB. Tak lama setelah makan, sejumlah siswa dari kelas V B mulai mengeluhkan sakit perut hebat yang kemudian merembet ke rekan sekelas lainnya.
Para korban segera dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan medis darurat. Setelah mendapatkan penanganan, kondisi para siswa berangsur membaik dan enam di antaranya langsung diperbolehkan pulang pada hari yang sama. Kapolsek Singosari, Kompol Achmad Zainuddin, memastikan bahwa seluruh siswa kini telah kembali ke rumah masing-masing.
“Alhamdulillah sudah pulang semua dan kondisinya sudah membaik,” ujar Achmad Zainuddin pada Sabtu (14/2/2026).
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, drg. Wiyanto Wiyono, membenarkan terjadinya insiden yang menimpa 11 siswa tersebut. Meski demikian, Wiyanto menilai kecil kemungkinan penyebab utama gejala tersebut berasal dari menu MBG, mengingat total penerima manfaat mencapai 494 siswa namun kasus ini hanya terlokalisir pada satu kelas.
Dinkes menduga ada faktor penyebab lain atau “keracunan lokal” yang dipicu oleh konsumsi jajanan lain di luar menu resmi yang disediakan sekolah. Hal ini didasarkan pada jumlah korban yang sangat sedikit dibandingkan total populasi siswa yang mengonsumsi menu yang sama.
“Ini kayaknya keracunan lokal, bukan karena MBG. Apakah karena mengonsumsi makanan lain, seperti cilok hingga menyebabkan mual dan muntah,” papar Wiyanto.
Guna memastikan penyebab pasti dan menjaga akuntabilitas program MBG, Dinas Kesehatan telah mengamankan sampel makanan untuk diuji secara klinis. Proses uji laboratorium ini akan menjadi bukti otentik apakah terdapat kontaminasi pada menu tersebut ataukah murni disebabkan oleh faktor eksternal lainnya.
“Sampel sudah kami ambil, untuk diuji,” pungkas Wiyanto menegaskan langkah prosedur medis yang sedang berjalan.
Hingga saat ini, pihak sekolah dan kepolisian masih memantau perkembangan kesehatan para siswa sembari menunggu hasil resmi dari laboratorium Dinas Kesehatan Kabupaten Malang. (yog/ian)






