Jakarta (beritajatim.com) – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia resmi mengintegrasikan Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (SISKOHAT) dengan Platform Nusuk milik Arab Saudi untuk mempercepat proses pemvisaan dan meningkatkan akurasi data jemaah haji 1447 H/2026 M.
Langkah strategis ini dilakukan guna menyelaraskan validasi data jemaah secara real-time antara sistem nasional Indonesia dengan sistem layanan resmi Pemerintah Arab Saudi demi menjamin penyelenggaraan haji yang lebih tertib dan aman.
Transformasi digital ini menjadi kabar baik bagi calon jemaah di seluruh Indonesia, termasuk jemaah dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur, karena sistem terpadu ini meminimalisir kesalahan input manual yang sering menghambat keberangkatan. Integrasi ini memastikan bahwa setiap data yang ada di SISKOHAT otomatis tersinkronisasi dengan ekosistem digital Saudi, memberikan kepastian layanan yang lebih transparan sejak tahap pendaftaran hingga kepulangan.
Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Haji RI, Farosa, menegaskan bahwa integrasi SISKOHAT dengan Nusuk merupakan fondasi utama untuk memperkuat keamanan siber dan efisiensi layanan jemaah. Inovasi ini memungkinkan data jemaah haji Indonesia tervalidasi secara otomatis, sehingga memperlancar alur birokrasi internasional yang sebelumnya memakan waktu lebih lama.
“Melalui integrasi ini, data jemaah haji Indonesia dapat tervalidasi secara langsung dengan sistem Arab Saudi. Hal tersebut sangat mendukung kelancaran layanan jemaah, khususnya dalam proses pemvisaan,” ujar Farosa saat ditemui di kantor Kemenhaj Pusat, Jumat (13/2/2026).
Proses penguatan sistem ini telah dirintis secara bertahap sejak Oktober 2025 melalui pemetaan kebutuhan teknis yang mendalam. Farosa menyebutkan bahwa pondasi sistem ini mulai dibangun pada masa kepemimpinan pejabat sebelumnya untuk memastikan tata kelola data nasional selaras dengan standar global yang diterapkan oleh Kerajaan Arab Saudi.
“Pada tahap awal perencanaan dan penguatan fondasi sistem, integrasi ini telah dirintis sejak masa kepemimpinan Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi sebelumnya, Moch. Hasan Affandi, yang mendorong penguatan tata kelola data haji serta kesiapan sistem nasional agar selaras dengan platform layanan Arab Saudi,” jelasnya.
Dalam aspek teknis, Kemenhaj menugaskan Ali sebagai penanggung jawab pengembangan dan pengujian sistem guna menjamin stabilitas koneksi antarnegara. Fokus utama tim teknis adalah memastikan sertifikat sistem dan pertukaran data berjalan melalui jalur yang aman, sehingga pada Januari 2026, kedua platform tersebut dinyatakan siap beroperasi secara penuh untuk mendukung musim haji tahun ini.

Farosa menjamin bahwa seluruh proses digitalisasi ini tetap mengedepankan prinsip perlindungan data pribadi dan keamanan siber nasional. Setiap akses data dibatasi hanya untuk pihak berwenang dan setiap pertukaran informasi tercatat secara akuntabel dalam sistem pengawasan kementerian.
“Pengamanan sistem dilakukan dengan memastikan data hanya dapat diakses oleh pihak yang berwenang, terlindungi selama proses pengiriman, serta tercatat secara akuntabel dalam sistem. Hal ini penting untuk menjaga keamanan dan keandalan data jemaah,” ujarnya.
Saat ini, otomatisasi pengiriman data dari SISKOHAT ke Nusuk telah memangkas prosedur manual dalam proses pemvisaan. Dampaknya, jemaah dapat memantau status visa mereka dengan lebih pasti tanpa perlu khawatir akan ketidaksinkronan data antara otoritas Indonesia dan Arab Saudi.
“Dengan implementasi integrasi ini, proses pemvisaan dapat dilakukan secara lebih cepat dan terukur karena data jemaah dikirim langsung dari sistem SISKOHAT ke Nusuk tanpa melalui proses manual,” tegas Farosa.
Kemenhaj berencana memperluas cakupan integrasi ini tidak hanya untuk haji reguler, tetapi juga mencakup pengelompokan jemaah (grouping), manajemen kontrak layanan di Saudi, hingga integrasi layanan umrah. Pengembangan satu ekosistem data ini diharapkan menjadi standar baru pelayanan publik yang lebih canggih, adaptif, dan berkelanjutan bagi seluruh umat Islam di Indonesia.
“Integrasi ini menjadi fondasi pengembangan layanan digital haji ke depan. Kami akan terus memperluas cakupan integrasi agar seluruh tahapan layanan jemaah terhubung dalam satu ekosistem data yang andal dan berkelanjutan,” pungkasnya. [ian]






