Gresik (beritajatim.com) – SMK PGRI 1 Gresik resmi membuka kelas pertama Spring School khusus bidang mekatronik dan robotik dengan menggandeng PT Indospring Tbk sebagai mitra industri strategis pada Sabtu (14/2/2026).
Program inovatif ini dirancang untuk menjawab tingginya kebutuhan tenaga kerja kompeten di sektor otomasi industri, sekaligus menempatkan Kabupaten Gresik sebagai pionir pendidikan vokasi modern berorientasi masa depan.
Sebanyak 36 siswa dinyatakan lolos seleksi ketat dari ratusan pendaftar untuk mengisi kelas perdana ini. Para siswa terpilih telah melewati serangkaian tahapan mulai dari tes tulis, psikologi, tes kesehatan, hingga wawancara langsung untuk memastikan kesiapan fisik dan mental dalam mengikuti kurikulum berbasis industri.
Salah satu siswa yang berhasil lolos, Muhammad Fajar Maulana Zairullah (16), mengungkapkan rasa bangganya atas pencapaian ini. Bagi pelajar kelas 10 tersebut, kesempatan masuk ke kelas Spring School adalah jalan untuk memperbaiki taraf hidup keluarga.
“Saya ingin membanggakan orang tua dan tidak menyiakan kesempatan ini setelah ditinggal ayah yang sudah meninggal dunia,” ujar Fajar di sela-sela acara peresmian yang digelar di SMK PGRI 1 Gresik.
Kepala Sekolah SMK PGRI 1 Gresik, Arief Susanto, menjelaskan bahwa kolaborasi dengan dunia industri sebenarnya bukan hal baru bagi instansinya, namun program Spring School ini memiliki spesifikasi yang lebih mendalam.
Jika sebelumnya hanya berupa kelas industri biasa, kini kurikulum dan bimbingan teknis diberikan secara intensif oleh praktisi industri skala nasional.
“Sebelumnya kami membuka kelas industri. Kali ini perdana school spring yang dibimbing langsung oleh industri skala nasional sejak kelas 10 hingga lulus,” kata Arief Susanto.
Direktur PT Indospring Tbk, Bob Budiono, menuturkan bahwa kerja sama ini merupakan evolusi dari hubungan yang telah terjalin sejak tahun 2012. Sebagai produsen pegas otomotif terbesar di Asia Tenggara yang beroperasi di bawah naungan Indoprima Group, PT Indospring Tbk merasa perlu melakukan intervensi langsung pada kualitas SDM melalui jalur pendidikan SMK.
“Hadirnya kelas baru ini ingin memberikan motivasi kepada siswa mengingat kebutuhan industri berbasis mekatronik serta robotik terus berkembang,” tutur Bob Budiono.
Bob menekankan bahwa penguasaan teknologi otomasi di Indonesia saat ini masih tertinggal dibandingkan negara maju. Oleh karena itu, pengenalan teori dan praktik mekatronik serta robotik sejak dini di tingkat sekolah menengah diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga unggul secara kompetensi teknis.
“Kami memilih SMK supaya bisa memberikan teori tentang otomasi. Pasalnya, di Indonesia dinilai masih ketinggalan. Dua pilihan yakni mekatronik dan robotik bisa diandalkan ke depannya,” pungkas Bob. [dny/ian]






