Pacitan (beritajatim.com) – Sebanyak 252 bonsai dari berbagai daerah mengikuti kontes bergengsi di Alun-alun Pacitan dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Pacitan ke-281 pada Kamis (5/2/2026). Tanaman hias yang tertata rapi di lapangan basket ini menampilkan keindahan mulai dari kelas bahan, semi matang, hingga kelas matang.
Pengunjung memadati lokasi pameran untuk melihat langsung keunikan bentuk pohon serta mengabadikannya menggunakan kamera ponsel. Beragam jenis unggulan seperti serut, sancang, wahong, hingga beringin kimeng dipamerkan dengan karakter batang yang sangat kuat.
Panitia membagi kompetisi ini ke dalam tiga kategori utama guna memastikan penilaian yang adil bagi seluruh peserta. Kelas bahan menjadi kategori paling diminati dengan total 144 peserta, disusul kelas semi matang 82 peserta, dan kelas matang 26 peserta.
Peserta kontes ini tidak hanya berasal dari lokal Pacitan, melainkan juga merambah hingga berbagai wilayah di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Perwakilan dari Solo, Trenggalek, Ponorogo, Bantul, Wonogiri, Gunung Kidul, Sukoharjo, hingga Madiun turut bersaing menunjukkan kualitas koleksinya.
Panitia pameran bonsai, Triyono, menjelaskan bahwa ajang ini merupakan wadah terbuka untuk mempererat silaturahmi antar-pegiat seni tanaman hias. “Kontes ini terbuka untuk umum. Pesertanya tidak hanya dari Pacitan, tapi juga dari berbagai daerah. Ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus adu kualitas bonsai,” ujar Triyono.
Dewan juri akan memilih sepuluh karya terbaik pada setiap kelas berdasarkan kriteria estetika dan teknis yang sangat mendalam. Penilaian tersebut mencakup karakter bahan, gerak batang, percabangan, hingga keharmonisan bentuk pohon secara keseluruhan.
Triyono menambahkan bahwa setiap detail pohon sangat menentukan nilai poin yang akan diberikan oleh tim penilai profesional. “Di masing-masing kelas akan diambil sepuluh terbaik. Penilaian meliputi karakter bahan, gerak batang, percabangan, sampai keharmonisan bentuk,” tambahnya.
Meskipun mayoritas tanaman yang dipamerkan masih berusia antara tiga hingga lima tahun, nilai ekonomis yang ditawarkan tergolong sangat fantastis. Beberapa koleksi dibanderol mulai belasan hingga puluhan juta rupiah tergantung pada kerumitan bentuk dan kematangan karakter.
Bahkan, terdapat satu bonsai istimewa dalam pameran ini yang nilainya ditaksir mencapai angka sekitar Rp50 juta. Harga tinggi tersebut mencerminkan kualitas seni dan perawatan intensif yang dilakukan oleh pemiliknya selama bertahun-tahun.
Pameran ini sekaligus menjadi sarana edukasi bagi masyarakat umum yang ingin mendalami teknik merawat serta membentuk pohon kerdil ini. Banyak warga terlihat antusias berdiskusi dengan para pemilik untuk memahami filosofi serta nilai estetika di balik setiap karya seni hidup tersebut.






