Tuban (beritajatim.com) – Ratusan tukang becak wisata Makam Sunan Bonang Tuban atau yang biasa mangkal di Terminal Parkiran Bus Kebonsari melakukan aksi di depan kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban menuntut persoalan kendaraan angkutan shuttle dan becak motor (bentor) program milik Presiden Republik Indonesia.
Mereka menilai bahwa adanya angkutan shuttle dan bentor yang sama-sama mengangkut peziarah di kawasan Makam Sunan Bonang Tuban ini mengambil ruang dan rezeki dari becak tradisional yang sudah lama ada.
Ketua Paguyuban Parkir Wisata Sunan Bonang, Sutiono mengatakan aksi ini menindaklanjuti dari mediasi yang telah dilakukan di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tuban tentang tuntutan shuttle yang liar dan kembali dilakukan audiensi di kantor Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan (DLHP) Tuban.
“Dari mediasi tersebut katanya teman-teman shuttle ditata dan teman-teman tukang becak ditata, karena kami sebagai pedagang terkena imbas karena persoalan ini,” ujar Sutiono. Rabu (04/02/2026).
Sehingga, pihaknya menuntut penataan dari persoalan ini. Sebab, menurutnya program pemerintah ini dinilai gagal karena tidak sesuai dengan rencana. “Maka dari itu, kita melakukan aksi dengan tema aksi 1000 massa,” imbuhnya.
Adapun jumlah yang mengikuti demo sejumlah tukang becak 800 orang dan pedagang 300 orang. Termasuk pihaknya mengirim surat izin aksi ke Polres Tuban dengan pemberitahuan 1000 orang. Namun, yang berangkat aksi kurang lebih 500 orang.
“Tadi dari Pemkab Tuban sudah menemui kami dan akan memenuhi permintaan kita, fokuskan satu titik parkir resmi milik Pemerintah Tuban di Kebonsari, yang kedua soal Bentor akan ditindak lanjuti, yang ketiga shuttle liar akan ditertibkan yakni di Tundungmusuh, Pantai Kelapa dan di Perut Bumi,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala DLHP Tuban, Anthon Tri Laksono yang menemui massa mengaku bahwa persoala transportasi peziarah ini memang menjadi pekerjaan yang tidak sederhana, mengingat ini juga persoalan sosial dan ekonomi masyarakat.
“Ketika ada peluang ekonomi pasti dimanfaatkan itu wajar, tapi disisi lain temana-teman di Terminal Kebonsari merasa penghasilannya berkurang, sehingga kami hari ini sepakat bus peziarah harus masuk di terminal Kebonsari,” tutur Anthon sapanya.
Anthon menceritakan awal muncul kendaraan shuttle ini sebetulnya kendaraan bus peziarah parkir di luar terminal Kebonsari, sebab banyak wisata religi lainnya di Kabupaten Tuban. Sehingga, hal ini dimanfaatkan oleh kendaraan shuttle yang mengantar peziarah hendak ke Makam Sunan Bonang Tuban.
“Saat ini kami akan fokus menata, baik kendaraan shuttle maupun bentor, tentu hal ini juga tidak bisa langsung instan, butuh dukungan semua pihak,” pungkasnya. [dya/ted]






