Gresik (beritajatim.com)- Pembongkaran cagar budaya pada bangunan eks asrama Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di lingkungan kantor lama PT Pos Indonesia Gresik terus menuai kecaman. Bangunan yang berada di kawasan Bandar Gressise itu, kini tak berjejak rata dengan tanah pasca dibongkar.
Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) 11 menyebutkan meski kayu tua, dan sudah berlapuk nilai sejarahnya masih tinggi.
Kepala BPKW 11 Endah Budi Heryani mengatakan, sampai saat ini instansinya belum mengetahui keberadaan kayu-kayu tersebut. Yang jelas, dia berharap, pembangunan ulang tetap dimaksimalkan dengan mempertahankan material yang asli.
“Kita maksimalkan dulu material asli yang belum dibongkar, mengingat sebagian besar material yang telah dibongkar entah dimana keberadaannya,” katanya, Senin (2/2/2026).
Sementara itu, berdasarkan dokumentasi Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparekrafbudpora) Gresik tahun 2025, kondisi bangunan itu ada sejumlah titik kerusakan. Namun, terlihat dalam foto dokumen bahwa kayu-kayu yang digunakan untuk pintu, tiang, hingga jendela masih terlihat bagus.
Kepala Disparekrafbudpora Gresik drg Saifudin Ghozali menuturkan, kayu-kayu itu kebanyakan masih bagus. Hal itu dilihat dari dokumentasi tahun 2025.
“Sampai saat ini kami belum tahu di mana material itu pasca dibongkar,” tuturnya.
Secara terpisah, Arkeolog Pelestari Cagar Budaya Gresik, Khairil Anwar menyatakan meski ada material yang sudah tidak layak tetap harus diamankan. Hal ini karena menyangkut obyek data dalam studi kelayakan pemugaran.
“Kalau alasan kayu lapuk, masih ada nilai penting cagar budayanya. Ada sejarahnya terkait material dari bangunan itu,” ungkapnya.
Terkait dengan polemik ini, dirinya mendorong pihak terkait segera mengamankan material dari hasil pembongkaran cagar budaya tersebut.
“Itu pohon jati. Dimana materialnya dari zaman Belanda. Kusen jendela, maupun pintu hingga rangka atap rumah. Jati jaman Belanda beda dengan jati sekarang,” urainya.
Dalam catatan sejarah, lanjut Khairil, bangunan tersebut merupakan kompleks loji dagang pertama Belanda. Materialnya didatangkan langsung dari negara asalnya.
“Bangunan itu bernilai tinggi karena fisik dan sejarahnya,” tandas Khairil. [dny/but]






