Surabaya (beritajatim.com) – Sektor manufaktur Indonesia mencatatkan tonggak sejarah baru dalam pelestarian lingkungan. PT Suparma Tbk, emiten kertas dan tisu, resmi dinobatkan sebagai perusahaan manufaktur pertama di tanah air yang berhasil menerapkan program Zero Waste to Landfill.
Pencapaian prestisius ini dikukuhkan melalui penyerahan sertifikasi internasional dari Control Union bertajuk “Zero Waste to Landfill: Turning Commitment into Impact”. Sertifikat tersebut diserahkan langsung oleh Director PT PCU Indonesia, Gayan Wejesiriwardana, kepada CEO PT Suparma Tbk, Edward Sopanan, di Surabaya.
Melalui audit ketat, PT Suparma Tbk terbukti mampu mengelola 99,95 persen limbah padat produksinya secara mandiri tanpa membuangnya ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Dengan volume limbah mencapai ratusan ton per hari, perusahaan berhasil mengubah beban lingkungan menjadi sumber daya bernilai ekonomi.
Edward Sopanan menjelaskan bahwa keberhasilan ini adalah buah dari konsistensi jangka panjang sejak tahun 2020.
“Kami bangga menjadi pionir di industri manufaktur Indonesia. Program ini bukan sekadar pengelolaan sampah, melainkan strategi ekonomi sirkular dan implementasi nyata prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG),” tegas Edward.
Data internal menunjukkan PT Suparma Tbk menghasilkan limbah harian berupa 40 ton Fly Ash dan Bottom Ash (FABA), 20 ton limbah plastik, serta 300 kilogram limbah organik.
Alih-alih menjadi polusi, limbah tersebut diproses melalui teknologi ramah lingkungan seperti Limbah FABA, dimana limbah diolah oleh sister company menjadi material bangunan berkualitas seperti genteng, paving, batako, hingga bata ringan.
Sedangkan limbah plastik, dikonversi menjadi sumber energi untuk menunjang kebutuhan operasional internal perusahaan. Dan limbah organik dikelola secara mandiri di lingkungan perusahaan.
Pencapaian ini mendapat apresiasi tinggi dari Pemerintah Kota Surabaya. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Dedik Irianto, menyebut langkah PT Suparma Tbk sebagai oase di tengah tingginya beban sampah kota.
“Volume sampah yang masuk ke TPA Benowo mencapai 1.800 ton per hari, sementara kapasitas unit Waste-to-Energy kami baru di angka 1.000 ton. Peran industri seperti PT Suparma Tbk sangat krusial dalam mengurangi beban lingkungan kota. Kami berharap ini menjadi tren yang diikuti industri lain,” ujar Dedik.
Ke depan, PT Suparma Tbk berencana memperluas jangkauan pasar untuk produk-produk hasil pengolahan limbah mereka. Hal ini sejalan dengan ambisi perusahaan untuk terus berinovasi sebagai Indonesia’s Sustainable Paper Company yang memberikan dampak positif jangka panjang bagi industri nasional.
“Pencapaian ini bukan akhir, melainkan awal dari inovasi berkelanjutan yang lebih besar bagi masyarakat dan lingkungan,” tutup Edward.[rea]






