Magetan (beritajatim.com) – Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magetan resmi memulai vaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) periode pertama 2026 dengan alokasi 15.000 dosis vaksin. Langkah strategis ini memprioritaskan populasi sapi guna menjaga kekebalan komunal ternak di wilayah Jawa Timur secara optimal.
Seluruh tenaga medik dan paramedik kesehatan hewan telah disiapkan untuk turun langsung menjangkau sentra-sentra peternakan rakyat. Pemerintah daerah berkomitmen memastikan distribusi vaksin berjalan cepat dan tepat sasaran sesuai data populasi yang ada.
“Alhamdulillah, periode pertama ini Magetan mendapatkan 15.000 dosis vaksin PMK. Teman-teman medik dan paramedik sudah siap melaksanakan vaksinasi,” ujar Kepala Dinas Peternakan Magetan, Nur Haryani, Kamis (29/1/2026).
Nur Haryani menjelaskan bahwa sapi potong dan sapi perah menjadi target utama dalam penyuntikan vaksin tahap awal ini. Meski demikian, vaksin tersebut juga menyasar hewan ternak lain yang berpotensi tertular seperti kambing dan domba.
“Prioritasnya memang sapi, tetapi sasarannya juga kambing, domba,” jelas Nur Haryani secara detail. Ia menegaskan bahwa jangkauan luas ini diperlukan untuk memutus rantai penyebaran virus PMK di tingkat akar rumput.
Vaksinasi PMK dilaksanakan mengikuti kebijakan pemerintah pusat melalui program nasional bertajuk Bulan Bakti Vaksinasi PMK. Pola pemberian vaksin dilakukan secara rutin sebanyak dua kali dalam setahun atau setiap enam bulan sekali.
Program berkala ini bertujuan agar tingkat kekebalan atau titer antibodi pada tubuh ternak tetap optimal sepanjang tahun. Para peternak diharapkan memiliki komitmen kuat untuk mengikuti seluruh rangkaian vaksinasi secara bertahap dan konsisten.
“Tujuannya agar tingkat kekebalan atau titer antibodi ternak tetap optimal sepanjang tahun. Peternak juga harus berkomitmen mengikuti vaksinasi secara bertahap,” tegas Nur Haryani kembali.
Selain 15.000 dosis awal yang telah diterima, pihak dinas memastikan akan ada penambahan kuota vaksin sesuai kebutuhan riil di lapangan. Pasokan tersebut akan dicukupi oleh pemerintah pusat guna menjangkau seluruh populasi ternak yang terdata di Magetan.
Saat ini, populasi sapi potong di Magetan tercatat mencapai sekitar 67.000 ekor sebagai penyumbang terbesar komoditas ternak daerah. Sementara itu, sapi perah berjumlah sekitar 700 hingga 800 ekor meskipun sempat mengalami sedikit penurunan populasi baru-baru ini.
Kelompok hewan ternak kecil seperti kambing dan domba juga memiliki angka populasi yang signifikan antara 40.000 hingga 50.000 ekor. Seluruh data populasi ini menjadi basis utama dalam pemetaan distribusi vaksin agar penyaluran berjalan efektif dan efisien.
Vaksin PMK yang digunakan oleh petugas merupakan produk dalam negeri hasil inovasi Balai Besar Veteriner Farma (Pusvetma). Jenis vaksin ini telah terbukti kualitasnya pada tahun-tahun sebelumnya dalam menekan angka kasus penyakit mulut dan kuku.
Selain tindakan medis, Dinas Peternakan juga gencar menjalankan program Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada para pemilik ternak. Hingga saat ini, program edukasi tersebut telah berhasil menjangkau sekitar 220 desa di seluruh wilayah Kabupaten Magetan.
“Selain vaksinasi, kami juga memberikan edukasi tentang pentingnya vaksin PMK sekaligus melakukan pendataan ternak yang akan divaksin,” terang Nur Haryani. Langkah ini dianggap penting guna meningkatkan literasi peternak mengenai aspek kesehatan hewan dan biosafety.
Antusiasme para peternak di Magetan dilaporkan sangat tinggi dalam menyambut program vaksinasi gratis dari pemerintah pusat ini. Bahkan, sebagian peternak mulai berinisiatif melakukan tindakan pencegahan secara mandiri karena meningkatnya kesadaran akan kesehatan ternak.
“Peternak sangat menantikan vaksinasi PMK ini. Strategi utama pengendalian PMK memang vaksinasi,” pungkas Nur Haryani. [fiq/beq]






