Surabaya (beritajatim.com) – Dunia kerja tengah berada dalam fase paling membingungkan sepanjang dua dekade terakhir. Ketidakpastian ekonomi, regulasi yang berubah cepat, generasi baru di dunia kerja, hingga laju digitalisasi berbasis kecerdasan buatan (AI) membuat banyak perusahaan berada di titik krusial. Hal itu disampaikan James Waskito Sasongko, Chief of People & Organisation Transformation Samator Group, dalam sebuah forum diskusi tentang masa depan manajemen sumber daya manusia (SDM) kala Webinar yang diadakan oleh PT Magnet Solusi Integra, Jumat sore (23/1/2026).
Menurut James, profesi Human Resources (HR) kini bukan lagi sekadar fungsi administratif, melainkan menjadi penentu arah bisnis agar perusahaan mampu bertahan, bertumbuh, dan beradaptasi di tengah krisis global. James menjelaskan, meski beberapa indikator ekonomi tampak membaik, realitas di lapangan justru menunjukkan tekanan yang semakin berat.
“Berita ekonomi bisa terlihat bagus, tetapi dunia usaha tetap terasa sulit. Banyak perusahaan yang menutup operasional, investasi tertahan, dan regulasi yang membingungkan memperburuk situasi,” ujarnya.
Di saat bersamaan, HR juga harus berhadapan dengan perubahan generasi, meningkatnya kompetisi kerja, serta kompleksitas job description yang membuat banyak karyawan diliputi kecemasan: bertahan atau terkena PHK massal. James menyoroti perubahan besar sejak hadirnya AI. Jika dahulu teknologi ini menimbulkan ketakutan, kini justru menjadi alat penting dalam meningkatkan efisiensi.
“Dulu membuat CV saja sulit. Sekarang dengan AI, CV bisa disusun lebih rapi dan profesional dalam hitungan menit. Perubahan terasa jauh lebih cepat,” katanya.
Ia menekankan, HR harus mampu mengelola AI bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai mitra strategis dalam membangun organisasi modern.
James menilai, banyak organisasi masih terjebak pada paradigma lama yakniHR hanya fokus pada dokumen, data, dan proses administratif.
“Indikator transformasi HR bukan lagi tumpukan berkas, tetapi kinerja nyata. Banyak orang sibuk dengan data, namun belum tentu hasil kerjanya sesuai dengan tujuan perusahaan,” tegasnya.
HR masa kini, lanjut James, harus mampu beberapa hal di antaranya membaca dan menganalisis data secara tepat, menghubungkan kebijakan SDM dengan strategi bisnis dan fokus pada produktivitas dan pertumbuhan perusahaan. Dalam pandangannya, HR tidak boleh lagi hanya menjadi “wakil karyawan” yang menyampaikan keluhan ke manajemen.
“HR harus menyusun sistem yang membuat karyawan bisa bekerja maksimal, sejahtera, dan berdampak langsung pada peningkatan produktivitas serta profit perusahaan,” ujarnya.
Ia bahkan menyarankan HR memahami ilmu marketing, agar mampu “menjual” nilai organisasi kepada karyawan dan menciptakan employee experience yang kuat.
James menegaskan, unit yang paling banyak belajar dalam organisasi adalah fungsi people management. HR dituntut tidak pernah berhenti belajar.
“Setiap ikut forum atau webinar, selalu ada hal baru, meski kecil. Itulah bekal untuk bertahan,” katanya.
Ia juga mencontohkan China sebagai negara terdepan dalam pemanfaatan AI, yang patut dijadikan referensi untuk melihat apakah transformasi digital ini hanya tren sesaat atau akan menjadi standar global.
James menegaskan lagi bahwa HR adalah garda terdepan keberlanjutan bisnis.
“HR hari ini adalah tentang bagaimana kita menolong bisnis untuk tumbuh, maju, dan bertahan. Inilah peran strategis kita,” pungkasnya.
Chief Executive Officer PT Magnet Solusi Integra, Dra. I. Novianingtyastuti, M.M.Psikolog menambahkan apresiasi dengan banyaknya peserta yang ikut dalam webinar kali ini. Harapannya ilmu yang disampaikan dapat bermanfaat bagi kinerja HR di seluruh Indonesia. [aje]






